Page 95 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 05 DESEMBER 2019
P. 95

"Informasi-informasi yang diproduksi oleh Yuli Arista sangat bermanfaat bagi semua
               orang yang ingin mendapatkan informasi tangan pertama dari narasumber yang ada
               di lokasi ketimbang hanya informasi dan peringatan standar yang disampaikan oleh
               perwakilan Indonesia dalam hal ini KJRI Hong Kong," jelas Wahyu dalam keterangan
               resmi yang diterima ABC.

               Otoritas Hong Kong, sebutnya, menilai aktivitas citizen journalism (jurnalisme
               warga) Yuli lewat Migran Pos membahayakan. "Situasi ini memperlihatkan bahwa
               ada ancaman terhadap kebebasan berekspresi bagi pekerja migran Indonesia, dan
               negara-negara lainnya, di Hong Kong dan ini merupakan pelanggaran hak asasi
               manusia," utara Wahyu.

               Kecaman serupa juga datang dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya.
               Dalam konferensi pers mereka (3/12/2019), AJI Surabaya menuding Otoritas Hong
               Kong merasa terancam dengan aktivitas Yuli padahal buruh migran ini, dianggap
               mereka, membagikan informasi bermanfaat lewat media yang dirintisnya.

               "Beberapa artikel yang ditulis Yuli dan kawan-kawannya di Migran Pos, memberikan
               informasi panduan bagi pekerja yang ingin beraktivitas aman di luar rumah."

                   "Misalnya lokasi-lokasi mana yang rusuh, jalan alternatif sampai angkutan umum
               yang bisa digunakan. Menurut kami, ini semua berkaitan kepentingan dan
               keselamatan publik."

               Terluka dan emosional

               Di balik penahanannya selama 28 hari, ada luka yang membekas dalam ingatan Yuli.
               Ia mengaku sempat diperiksa tanpa busana saat berada di tahanan CIC.


               Meski sang majikan menginginkannya kembali ke Hong Kong, namun ia masih ragu
               untuk kembali menjadi pekerja migran.


               Tak merasa didampingi

               Direktur Perlindungan WNI di Kementerian Luar Negeri Indonesia, Judha Nugraha,
               mengatakan perwakilan Indonesia di Hong Kong telah mengikuti dan mendampingi
               kasus yang dialami Yuli.

               "Yang bersangkutan didakwa melanggar ketentuan imigrasi Hong Kong yaitu
               melebihi ijin tinggal atau overstay."

                   "Sesuai hukum Hong Kong, pelanggaran imigrasi masuk dalam kategori kasus
               pidana dimana pelanggarnya diancam sanksi denda dan penjara maksimal 2 tahun,"
               kata Judha dalam keterangan yang disampaikannya kepada ABC.

               Terkait kecurigaan Yuli atas motif penahanan dirinya dan kecaman sejumlah
               organisasi, Judha mengatakan Pemerintah Indonesia tak bisa berspekulasi tentang
               kaitan proses hukum yang dihadapi Yuli dengan tulisan-tulisan yang
               dipublikasikannya, mengenai demonstrasi di Hong Kong.




                                                       Page 94 of 96.
   90   91   92   93   94   95   96   97