Page 91 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 05 DESEMBER 2019
P. 91

semakin buruknya kebebasan berekspresi di era demokrasi. Padahal, informasi-
               informasi yang disampaikan Yuli, bermanfaat bagi banyak orang, terutama pekerja
               migran di Hong Kong, yang ingin mengetahui dan mendapatkan informasi terkait
               apa yang sebenarnya terjadi di sana.

               Miftah menyampaikan bahwa Yuli menyajikan informasi dari narasumber yang ada
               di lokasi, ketimbang hanya informasi dan peringatan normatif yang diberikan
               perwakilan Indonesia dalam hal ini KJRI Hong Kong.

               KJRI: Semua kewenangan otoritas

               Menanggapi hal ini, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hong Kong
               menegaskan bahwa yang dilakukan oleh otoritas Hong Kong terhadap Yuli adalah
               bentuk tindakan atas pelanggaran keimigrasian yaitu tinggal melebihi waktu yang
               diijinkan (overstay).

               Menurut Konsul Protokol dan Konsuler, KJRI Hong Kong, Erwin Akbar, KJRI tidak
               dapat berspekulasi mengenai kaitan proses hukum Yuli dengan tulisan-tulisannya
               tentang demonstrasi di Hong Kong.

               "Sesuai keputusan pengadilan, Yuli dinyatakan bersalah telah melanggar aturan
               keimigrasian Hong Kong dan dijatuhi sanksi hukum atas pelanggaran tersebut,"
               jelas Erwin lewat pernyataan tertulisnya kepada DW Indonesia.


               Ia juga menambahkan bahwa apa yang dilakukan Yuli selama berada di Hong Kong,
               terkait kegiatan jurnalistiknya tidak bisa didefinisikan dengan jelas kegiatan seperti
               apa.


               "Kita tidak bisa mendefinisikan dengan jelas kegiatan jurnalistik mana yang sifatnya
               'pekerjaan atau profesi', atau volunteer atau sekedar hobi, itu semua kewenangan
               otoritas Hong Kong," pungkasnya.


               Yang jelas menurut KJRI Hong Kong, sanksi dan deportasi yang dikenakan kepada
               Yuli berdasarkan putusan pengadilan adalah pelanggaran pidana aturan
               keimigrasian yaitu overstay.


               "Sesuai aturan setempat dan kontrak kerja, seseorang yang bekerja di Hong Kong
               dengan visa kerja tertentu (misalnya Domestic Helper) hanya boleh melakukan
               pekerjaan yang tertulis di kontrak kerjanya dan tidak diperbolehkan bekerja yang
               lain atau bekerja pada majikan yang berbeda," jelasnya.

               Ada tekanan politik


               Sementara International Domestic Workers Federation (IDWF) yang memberikan
               pendampingan kepada Yuli selama menghadapi kasus ini, mengecam keras otoritas
               imigras Hong Kong.


               Koordinator regional Asia IDWF, Fish Ip, menyampaikan bahwa kebijakan
               pemerintah Hong Kong harus dievaluasi kembali.




                                                       Page 90 of 96.
   86   87   88   89   90   91   92   93   94   95   96