Page 92 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 05 DESEMBER 2019
P. 92
"Ini bukan hanya salah, tapi absurd. Karena Yuli telah bekerja selama 10 tahun di
Hong Kong. Dia adalah orang yang baik, mempunyai kemampuan yang tinggi dalam
pekerjaan. Orang-orang yang ia layani di Hong Kong sangat percaya padanya," ujar
Fish kepada DW Indonesia.
IDWF bahkan melihat ada upaya tekanan politik dalam kasus Yuli.
"Kasus seperti ini baru pertama kali terjadi, selama 20 tahun saya bekerja
mendampingi pekerja migran. Pemerintah Hong Kong memberikan tekanan politik
terhadap pekerja migran," ujarnya.
Fish meyakini apa yang dialami Yuli sangat berkaitan dengan tulisan-tulisannya
tentang demonstrasi Hong Kong. Padahal, informasi semacam itu sangat biasa
dilakukan oleh pekerja migran yang ada di sana. Ketika dimintai keterangan, bahkan
pihak imigrasi Hong Kong tidak dapat memberikan pernyataan yang masuk akal
mengapa mereka mendeportasi Yuli.
Fish menambahkan bahwa kegiatan jurnalistik Yuli selama di Hong Kong juga
seharusnya tidak menyalahi aturan visa kerja.
"Jika ini kegiatan komersil (dibayar), maka ini ilegal. Tapi yang dilakukan oleh Yuli
bersifat sukarela. Dia mem-posting-nya di halaman Facebook. Ada banyak pekerja
migran yang juga melakukan kegiatan semacam ini," tegasnya.
Yuli kini berada di Surabaya dan masih dalam masa pemulihan karena mengaku
trauma dengan perlakuan otoritas Hong Kong selama ia berada di pusat imigrasi
Hong Kong. Yuli menyampaikan bahwa ia diperbolehkan kembali ke Hong Kong,
namun dengan visa kerja baru. Meski begitu Yuli merasa belum siap dan
membutuhkan pemulihan kesehatan dan traumanya terlebih dahulu.
Page 91 of 96.

