Page 587 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 30 NOVEMBER 2021
P. 587

membatalkan  UU  Cipta  Kerja  tersebut,"  ujarnya.  Emrus  mengungkapkan  pihaknya  pernah
              menjadi  juru  bicara  serap  aspirasi  untuk  membuat  peraturan  turunan  dari  UU  Cipta  Kerja
              tersebut.

              "Serap aspirasi dilakukan untuk mengakomodir keinginan masyarakat dalam peraturan turunan
              dari  UU  Cipta  Kerja  tersebut.  Tapi  saya  bukan  juru  bicara  serap  aspirasi  UU  Cipta  Kerja,
              melainkan hanya peraturan turunannya," katanya. Emrus mengatakan, secara pribadi pihaknya
              berpendapat banyak hal yang positif dalam Omnibus Law Cipta Kerja. "Saya melihat dari segi
              content, banyak hal baik yang diatur dalam UU Cipta Kerja tersebut.

              Masyarakat bisa memanfaatkan halhal yang menguntungkan dalam UU tersebut. Misalnya, untuk
              membuat  Perseroan  Terbatas  (PT)  sudah  dibolehkan  dibuat  perorangan.  Artinya  membuka
              peluang kepada setiap orang khususnya milenial untuk membuka perusahaan PT. Jadi kalau kita
              sisir, banyak pasal yang menguntungkan masyarakat. Tetapi kalau ada pihak yang mengatakan
              ada pasal yang merugikan, itu hak mereka dan wajar dalam negara demokrasi," kata Emrus.

              Secara  terpisah  pengamat  kebijakan  publik,  Moch  Ojat  Sudrajat  mengatakan  putusan  MK
              setengah  hati.  Sebab  di  satu  sisi  MK  menyatakan  UU  Cipta  Kerja  inkonstitusional  bersyarat,
              namun di sisi lain MK memberi kesempatan kepada pemerintah untuk melakukan revisi selama
              dua tahun. "Menurut pendapat saya, putusan MK ini menimbulkan ketidakpastian hukum.

              Untuk investor mungkin hal ini akan membuat mereka lebih hati-hati dalam berinvestasi. Karena
              dalam UU Cipta Kerja itu mengatur banyak hal, tidak hanya soal buruh tetapi juga mengatur
              banyak hal lainnya," ujarnya.

              Bermasalah Sejak Awal

              Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani menegaskan, putusan Mahkamah Konstitusi (MK)
              membuktikan  bahwa  memang  sejak  awal  pembahasan  UU  Cipta  Kerja  bermasalah  dan
              inkonstitusional.  Ia  mengatakan,  pembahasan  UU  Cipta  Kerja  cenderung  "dipaksakan"  dan
              dibahas secara kilat, sehingga tidak transparan dan banyak menabrak aturan main dalam proses
              pembentukan Undang-Undang. "PKS menolak pengesahan UU ini lantaran prosesnya yang cacat
              formil," katanya.

              Ia menyebut, UU Cipta Kerja cenderung merugikan buruh, membuka pintu tenaga kerja asing
              (TKA)  besar-besaran,  mengancam  kedaulatan  negara,  liberalisasi  sumber  daya  alam  (SDA)
              hingga merusak kelestarian lingkungan. "Proses pembentukan UU Cipta Kerja inkonstitusional,
              tapi kenapa putusan MK menyebut UU ini tetap berlaku.

              Seharusnya jika memang proses legislasinya buruk dan dinyatakan MK sebagai inkonstitusional,
              maka produk hukum yang dihasilkan juga inkonstitusional," imbuhnya. Ia menilai MK terkesan
              sangat politis. Padahal, MK merupakan lembaga pengawal konstitusi dan yang paling berhak
              memutuskan  mana  peraturan  yang  bertentangan  dengan  UUD  1945  dan  mana  yang  tidak.
              "Ibaratnya MK ini seperti penjaga gawang terakhir konstitusi," ucapnya.

              Dia menyebut pihaknya akan terus mengawal proses perubahan UU Cipta Kerja di lembaga DPR
              RI  sampai  dua  tahun  ke  depan.  Sementara  Partai  Buruh  berpendapat  putusan  Mahkamah
              Konstitusi  (MK)  menilai  Undang-  Undang  Nomor  11  Tahun  2020  tentang  Cipta  Kerja
              menunjukkan kegagalan partai politik di parlemen, menyerap suara atau aspirasi rakyat. Sebab,
              MK menilai Undang-Undang tersebut cacat formil.
              Salah  satu  alasannya,  karena  dalam  proses  pembentukan  regulasi  tersebut  tidak  melibatkan
              partisipasi publik yang maksimal sebagai salah satu syarat pembentukan UU yang baik "(Partai
              Politik) gagal dalam mengimplementasikan suara rakyat di tingkat parlmen," kata Ketua Umum
              Partai  Buruh  Said  Iqbal dalam  siaran  akun  YouTube Partai  Buruh.  Partai  buruh  menyerukan

                                                           586
   582   583   584   585   586   587   588   589   590   591   592