Page 588 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 30 NOVEMBER 2021
P. 588

kepada seluruh partai politik yang ada di Indonesia, bahwa belajar dari perkara tersebut untuk
              wajib hukumnya mendengarkan suara rakyat.
              "Belajar  dari  kasus  ini,  berpihak  kepada  rakyat.  Mengedepankan  kepentingan  rakyat,  bukan
              kepentingan  daulat  tuan,  bukan  kepentingan  koorperasi  dan  agenda  asing  yang  ingin
              memasukkan kepetingan melalui undang-undang. Termasuk UU Cipta Kerja Nomor 11 Tahun
              2020," ujar Iqbal. Partai Buruh menegaskan bakal melawan segala bentuk propaganda, sikap
              politik,  maupun  keterangan  dari  pihak,  terutama  pemerintah  yang  berusaha  mengaburkan
              putusan MK tersebut.

              "Propaganda akan dilakukan dengan propaganda. Penjelasan akan dilawan dengan penjelasan.
              Sikap politik akan dilawan dengan sikap politik," ucap Iqbal. Partai Buruh setuju dengan beberapa
              substansi amar putusan Majelis Hakim MK. Di antaranya, putusan yang menyatakan bahwa MK
              menangguhkan  segala  tindakan  atau  kebijakan  yang  bersifat  strategis  dan  berdampak  luas
              dalam undangundang. Itu sesuai dengan amar putusan nomor tujuh.

              "Harus dilihat amar putusan nomor tujuh. Jadi, pemerintah jangan mengulang propaganda amar
              putusan  nomor  empat.  Tapi,  amar  putusan  nomor  tujuh,"  jelas  Iqbal.  Selain  itu,  selama
              pembaruan belum dilakukan, penerbitan peraturanperaturan turunan baru dari UU Cipta Kerja
              tidak  dibenarkan.  "Dalam  PP  tersebut  pasal  4  menyatakan  bahwa  kenaikan  upah  minimum
              adalah kebijakan strategis. Nah, kejebak sendiri pemerintah.

              Berarti pasal 4 Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2021 tidak berlaku, ditangguhkan," ujar
              Iqbal. "Semua SK Gubernur tentang upah minimum provinsi dibatalkan tidak boleh berlaku. Itu
              MK yang menyatakan. Begitu pula upah minimum kabupaten/kota yang belum ditetapkan, tidak
              mengacu kepada PP Nomor 36 Tahun 2021 itu," tambahnya.

              Maka penetapan upah minimum kabupaten/kota harus mengacu kepada Undang-Undang Nomor
              13  Tahun  2003  atau  Peraturan  Pemerintah  Nomor  78  Tahun  2015.  "Ditangguhkan  sampai
              keluarnya  perbaikan  peraturan  Pembentukan  Peraturan  Perundang-  Undangan  (PPP)  dan
              perbaikan UU Cipta Kerja," cetus Iqbal.
              Ia  menyindir  salah  satu  menteri  yang  dinilai  mengabaikan  salah  satu  putusan  MK  yang
              menyatakan  UU  Omnibus  Law  Ciptaker  inkonstitusional  bersyarat,  sehingga  harus  diperbaiki
              dalam kurun waktu maksimal dua tahun. Ia menilai, penjelasan menteri terkait soal putusan MK
              dengan mengabaikan fakta hukum dan perintah MK secara keseluruhan sebagai propaganda.
              "Seolah-olah  tidak  ada  putusan  lain.  Tadi  sudah  jelas  MK  menyatakan  cacat  formil,
              inkonstitusional.

              Kemudian, MK menyatakan inkonstitusional bersyarat'. Pengertiannya memperbaiki paling lama
              dua tahun," terangnya. "Penjelasan dari pemerintah dan kelompok yang tidak sepakat dengan
              keputusan MK, maka partai buruh bersama organisasi-organisasi pemohon gugatan tersebut pun
              akan melakukan penjelasan sesuai apa yang diputuskan oleh MK," imbuh Iqbal.

              Sikap Partai Buruh terkait putusan MK terhadap UU Ciptaker sejalan dengan sikap organisasi
              buruh, petani, nelayan, dan organisasiorganisasi pekerja lain. Terlebih pada pengurus organisasi
              buruh tersebut, kini sebagian juga tergabung dengan partai buruh. Iqbal menegaskan, bakal
              terus mengawal agar putusan MK diimplementasikan di lapangan baik oleh pemerintah maupun
              DPR.

              Harus Dihormati

              Sementara Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Rahmad Handoyo mengatakan,
              putusan Mahkamah Konstitusi (MK) harus dihormati. Karena itu amanat konstitusi yang mengikat


                                                           587
   583   584   585   586   587   588   589   590   591   592   593