Page 589 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 30 NOVEMBER 2021
P. 589

semua  pihak.  "Keputusan  MK  berlaku  inkrah  dan  mengikat  semua  pihak.  Siapapun  itu,  baik
              pemerintah, DPR dan masyarakat," ujar Rahmad Handoyo melalui gawai, Minggu (28/11/2021).
              Menurut  dia,  keputusan  MK  harus  didukung  dan  dihormati.  Untuk  itu masa  dua  tahun  yang
              diberikan  MK  tersebut  harus  digunakan  untuk  mendalami  dan  mencermati  terkait  proses
              perbaikan. "Dalam putusan MK kan diberikan waktu 2 tahun untuk menyempurnakan. Waktu ini
              harus dimanfaatkan benar-benar oleh DPR dan pemerintah," katanya. "Proses 2 tahun itu tidak
              lama. Untuk penyempurnaan harus dilakukan cepat dengan melakukan pendalaman," imbuhnya.

              Ke depan, dikatakan dia, akan melibatkan lagi masyarakat. Meskipun sejak awal penyusunan UU
              ini telah mengikuti prosedur pembuatan undang-undang. Dengan melibatkan semua stakeholder
              terkait dan masyarakat. "Kalau kemudian MK memutuskan itu, lain soal. Saya kira mana saja
              yang harus mendapatkan perhatian untuk proses penyempurnaan akan dilakukan pemerintah
              dan DPR. Tentu dengan mengikuti kaidah-kaidah yang telah diputuskan oleh MK.

              Intinya  putusan  MK  harus  dihormati  dan  patuh  terhadap  keputusan  tersebut.  Kemudian
              menindaklanjuti  putusan  itu,"  imbuhnya.  Senada  dengan  itu,  Asosiasi  Pengusaha  Indonesia
              (Apindo) mengklaim tidak ada dampak signifikan tentang keputusan Mahkamah Kontitusi terkait
              Undang-Undang  (UU)  Cipta  Kerja  yang  dinilai  bertentangan  dengan  Undang-Undang  Dasar
              (UUD) 1945.

              Namun sampai saat ini, keputusan itu menjadi polemik di kalangan buruh. Sebab, UU Cipta Kerja
              menjadi landasan utama dalam menentukan Upah Minimum Provinsi (UMP) dan Upah Minimum
              kabupaten/kota (UMK) dengan aturan turunannya. "Relatif tidak ada dampaknya yang serius
              karena permasalahannya hanya untuk merevisi dari UU pembentukan Cipta kerja yaitu UU nomor
              11 tahun 2020," kata Ketua Umum Apindo Haryadi B. Sukamdani, Minggu (28/11/2021).

              Haryadi mengaku mendukung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) guna merivisi UU Cipta Kerja.
              Sehingga, hasil revisi itu dapat memberikan kepastian hukum usaha dan investasi. "Mendukung
              DPR RI untuk merevisi UU nomor 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Dengan revisi itu dapat
              memberikan kepastian hukum usaha dan investasi," ungkapnya.
              Menurutnya, keputusan MK tentang UU Cipta Kerja yang bertentangan dengan UUD 1945 perlu
              disampaikan secara luas, agar tidak ada persepsi yang multi tafsir. Sebab yang dikhawatirkan,
              dampak dari kesalahpahaman publik akan mendegradasikan calon investor yang akan masuk ke
              Indonesia. "Insya allah tidak ada dampak yang serius.
              Ini perlu juga kami sampaikan karena khawatir ada persepsi yang terlalu multi tafsir, baik di
              dalam negeri dan di luar negeri yang akan mendegradasi atau menurunkan minat orang mau
              investasi di Indonesia," jelasnya. Ia menerangkan, turunan UU Cipta Kerja yang sudah dibuat
              tetap berlaku. Akan tetapi setelah adanya keputusan MK, pemerintah dilarang membuat turunan
              sebelum melakukan revisi.

              "Turunan Cipta Kerja tetap berlaku, namun pemerintah tidak diperbolehkan membuat aturan
              turunan sebelum merevisi UU Cipta Kerja direvisi," terangnya. Pihaknya berharap masyarakat
              tidak  terpancing  dengan  isu  negatif  UU  Cipta  Kerja  guna  iklim  investasi  di  Indonesia  tetap
              berjalan  dengan  baik.  "Berharap  masyarakat  tidak  terpancing  dengan  isu  UU  Cipta  Kerja.
              Sehingga iklim investasi di Indonesia berjalan dengan baik," ucapnya.

              Terpisah, Ketua Umum Kamar Dagang (Kadin) Indonesia, Arsjad Rasjid juga menyatakan, pelaku
              usaha nasional mengapresiasi sistem check and balances atas uji formil Undang- Undang (UU)
              Nomor  11  Tahun  2020  tentang  Cipta  Kerja  yang  dilakukan  di  Mahkamah  Konstitusi  (MK).
              Menurutnya,  segala  keputusan  yang  telah  terjadi  harus  dihormati,  karena  Indonesia
              menggunakan sistem demokrasi. "Kita harus menghormati bahwa ini adalah demokrasi.


                                                           588
   584   585   586   587   588   589   590   591   592   593   594