Page 142 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 07 JULI 2020
P. 142
Ety merupakan warga Majalengka, Jawa Barat yang didakwa sebagai penyebab kematian
majikannya pada 2001 di Taif, Arab Saudi.
JAZILUL FAWAID: ALHAMDULILLAH, ETY TOYYIB PULANG SETELAH DITEBUS RP
15,5 MILIAR
, JAKARTA - Wakil Ketua MPR RI Jazilul Fawaid mengucap syukur setelah menyambut
langsung kepulangan Ety binti Toyyib Anwar yang berhasil dibebaskan dari hukuman mati di
Arab Saudi.
Penyambutan dilakukan di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Senin (6/7) petang.
Ety merupakan warga Majalengka, Jawa Barat yang didakwa sebagai penyebab kematian
majikannya pada 2001 di Taif, Arab Saudi.
Atas peristiwa itu dia dituntut keluarga korban dengan kisas berupa hukuman mati. Pengadilan
pun mengabulkannya.
Setelah menjalani hukuman 18 tahun penjara, Ety mendapatkan maaf dari ahli waris yang
meminta denda atau diyat sebesar 4 juta Riyal Arab Saudi (setara Rp15,5 miliar).
Proses negosiasinya pun panjang hingga Ety dipulangkan ke Indonesia hari ini.
"Alhamdulillah hari ini kami saksikan, satu nyawa warga negara Indonesia (WNI) berhasil
pulang. Karena memang satu jiwa ini sangat berharga. Ini hukum di Arab Saudi menentukan
siapa pun yang divonis mati atau pembunuhan maka kena qisas," ucap Jazilul.
Kedatangan Ety di Bandara Soetta disambut berbagai pihak, termasuk Menteri Ketenagakerjaan
Ida Fauziyah.
Menurut Jalilul, denda yang diminta ahli waris untuk Ety awalnya cukup tinggi, mencapai Rp 40
miliar.
"Untuk Bu Ety ini memang awalnya tinggi sekali (diyat-nya) kurang lebih Rp 40 miliar akhirnya
berhasil ke angka Rp 15 miliar. Alhamdulillah di era pandemi ini, saat banyak warga meninggal
dunia, tetapi ada satu jiwa yang terselamatkan," lanjut Jazilul.
Bagi politikus PKB ini, menyelamatkan satu jiwa itu sama dengan menyelamatkan satu bangsa.
Seperti juga membunuh satu jiwa sama seperti membunuh semua manusia.
"Itulah inti kemanusiaan. Makanya kami dari pimpinan MPR mengajak selalu mengedepankan
kemanusiaan, gotong royong di semua situasi pada siapa pun. Apalagi pada pejuang devisa
yang bekerja di luar negeri. Kerjanya cuma satu tahun delapan bulan, tetapi dipenjaranya 18
tahun," tutur Jazilul.
Dia juga berharap kejadian seperti ini tidak terulang kepada WNI yang berjuang di luar negeri.
Sebab, bila dibela sejak awal dengan cara yang benar, dia meyakini tuduhan dan hukumannya
tidak seberat yang dialami Ety.
"Karena beliau dituduh meracun. Padahal pengakuan beliau, orang dia (korban) sama istrinya
pergi dan makan di restoran, kok tujuannya meracun majikan," sambung politikus asal Jawa
Timur ini.
141

