Page 192 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 07 JULI 2020
P. 192
Ringkasan
- Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Jazilul Fawaid menyambut kedatangan
Eti Binti Toyib Anwar, Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Majalengka, yang dipenjara sejak
2002 atas tuduhan meracuni majikan dan bebas dari ancaman hukuman mati di Arab Saudi. Eti
tiba di Bandara Soekarno Hatta (Soetta), Tangerang, Banten, Senin sore (6/7/2020).
JAZILUL FAWAID: SATU NYAWA SANGAT BERHARGA
- Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Jazilul Fawaid menyambut kedatangan
Eti Binti Toyib Anwar, Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Majalengka, yang dipenjara sejak
2002 atas tuduhan meracuni majikan dan bebas dari ancaman hukuman mati di Arab Saudi. Eti
tiba di Bandara Soekarno Hatta (Soetta), Tangerang, Banten, Senin sore (6/7/2020).
"Alhamdulillah di masa pandemi Covid-19 yang memakan banyak korban meninggal dunia, tapi
ada satu jiwa yang bisa kita selamatkan. Satu nyawa warga negara Indonesia sangat berharga.
Menyelamatkan satu jiwa warga negara Indonesia sama seperti menyelamatkan kita semua.
Itulah inti kemanusiaan," kata Jazilul Fawaid usai bertemu dengan Eti Binti Toyib, di Ruang VIP
Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Senin sore (6/7/2020).
Senin, 6 Juli 2020 - 20:42 Menteri Tenaga Kerja Ida Fauziah dan Kepala Badan Perlindungan
Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Benny Ramdani ikut menyambut kedatangan Eti Binti Toyib.
Eti Binti Toyib bisa bebas dari hukuman mati setelah Pemerintah Indonesia dengan dukungan
dari berbagai kalangan, termasuk Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama
(Lazis NU) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), membayarkan diyat (uang darah) yang diminta
keluarga majikan.
Senin, 6 Juli 2020 - 19:45 "Ini hukum di Arab Saudi. Qisas itu hukum nyawa dengan nyawa.
Tapi bisa dilakukan dengan membayar diyat, pihak keluarga yang dibunuh memberikan
pemaafan," jelas Jazilul yang akrab disapa Gus Jazil.
Gus Jazil mengungkapkan, semula ahli waris majikanya meminta diyat yang tinggi sekali,
sebesar 30 juta real atau Rp107 miliar agar diampuni dan tidak dieksekusi. Tetapi dengan
berbagai pendekatan akhirnya ahli waris bersedia dengan diyat sebesar Rp15,2 miliar.
Senin, 6 Juli 2020 - 16:51 Atas inisiator dari teman-teman PKB dengan Lazis NU sejak dua
tahun lalu kemudian mengumpulkan dana untuk membayar diyat untuk membebaskan Eti Binti
Toyib dari ancaman hukuman mati. Kasus Eti sendiri terjadi sejak 2001 dan ia pun sudah
menjalani masa penahanan selama 19 tahun.
"Karena itu kami dari Pimpinan MPR selalu mengajak untuk mengedepankan kemanusiaan dan
kegotongroyongan di semua situasi kepada siapapun. Apalagi ini adalah pejuang devisa yang
bekerja di luar negeri. Ibu Eti bekerja hanya 1 tahun 8 bulan, tapi dipenjara 19 tahun. Ini tidak
boleh terulang lagi kepada warga kita, saudara kita yang berjuang di luar negeri tapi kemudian
terkena kasus," kata Koordinator Nasional Nusantara Mengaji ini.
Menurut Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat PKB ini, masih ada PMI yang terancam
hukuman mati di Arab Saudi. "Tapi pesannya adalah bahwa siapapun dan apapun atas nama
kemanusiaan tidak boleh ada warga kita yang kemudian dihukum pancung atau dihukum mati
untuk kasus yang memang belum clear seperti Ibu Eti ini," katanya.
191

