Page 86 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 07 JULI 2020
P. 86
Ringkasan
JAKARTA -- Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Jazilul Fawaid menegaskan
bahwa satu nyawa pun warga negara Indonesia sangat berharga, saat menyambut kedatangan
Etty Thoyib Anwar, pekerja migran yang berhasil bebas dari ancaman hukuman mati di Arab
Saudi.
JAZILUL TEGASKAN SATU NYAWA WNI SANGAT BERHARGA
JAKARTA -- Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Jazilul Fawaid menegaskan
bahwa satu nyawa pun warga negara Indonesia sangat berharga, saat menyambut kedatangan
Etty Thoyib Anwar, pekerja migran yang berhasil bebas dari ancaman hukuman mati di Arab
Saudi.
"Alhamdulillah di masa pandemi COVID-19 yang memakan banyak korban meninggal dunia, tapi
ada satu jiwa yang bisa kita selamatkan. Satu nyawa WNI sangat berharga. Menyelamatkan
satu jiwa WNI sama seperti menyelamatkan kita semua. Itulah inti kemanusiaan," kata Jazilul
Fawaid melalui pernyataan tertulisnya di Jakarta, Senin (6/7).
Gus Jazil, sapaan akrab Jazilul menyambut kedatangan Eti Binti Toyib di Ruang VIP Terminal 3,
Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Senin, didampingi Menteri Tenaga Kerja Ida
Fauziah dan Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Benny Ramdani.
Eti, pekerja migran asal Majalengka, Jawa Barat, yang dipenjara sejak 2002 atas tuduhan
meracuni majikan di Arab Saudi sehingga terancam hukuman mati.
Eti bisa bebas dari hukuman mati setelah Pemerintah Indonesia dengan dukungan dari berbagai
kalangan, termasuk Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama (LAZISNU) dan
PKB membayarkan diyat (uang darah) yang diminta keluarga majikan.
"Ini hukum di Arab Saudi. Qisas itu hukum nyawa dengan nyawa. Tapi bisa dilakukan dengan
membayar diyat, pihak keluarga yang dibunuh memberikan pemaafan," jelasnya.
Gus Jazil mengungkapkan semula ahli waris majikannya meminta diyat sangat tinggi, yakni
sebesar 30 juta real atau sekitar Rp107 miliar agar diampuni dan tidak dieksekusi, tetapi dengan
berbagai pendekatan akhirnya ahli waris bersedia dengan diyat sebesar Rp15,2 miliar.
"Atas inisiator dari teman-teman PKB dengan LAZISNU sejak dua tahun lalu kemudian
mengumpulkan dana untuk membayar diyat untuk membebaskan Eti Binti Toyib dari ancaman
hukuman mati," katanya..
Kasus Eti terjadi sejak 2001 dan yang bersangkutan pun sudah menjalani masa penahanan
selama 19 tahun.
"Karena itu kami dari pimpinan MPR selalu mengajak untuk mengedepankan kemanusiaan dan
kegotongroyongan di semua situasi kepada siapapun. Apalagi, ini adalah pejuang devisa yang
bekerja di luar negeri. Ibu Eti bekerja hanya 1 tahun 8 bulan, tapi dipenjara 19 tahun. Ini tidak
boleh terulang lagi kepada warga kita, saudara kita yang berjuang di luar negeri tapi kemudian
terkena kasus," kata Koordinator Nasional Nusantara Mengaji tersebut.
Wakil Ketua Umum DPP PKB itu menyebutkan masih ada pekerja migran asal Indonesia yang
terancam hukuman mati di Arab Saudi.
85

