Page 42 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 8 JUNI 2020
P. 42

"Ini bukti bahwa antusiasme masyarakat sangat besar dan positif. Tidak semua masyarakat
              suka  disuapi  saja,  ada  juga  yang  menginginkan  upskilling  dan  reskilling  ketika  mereka
              dirumahkan karena pandemi," kata Nurul.

              Temuan data dari Indikator - Politik Indonesia terkait realokasi anggaran belanja pemerintah
              mengatasi dampak Covid-19 mencatat 36,3 persen publik mengharapkan bantuan kebutuhan
              pokok  bagi  rakyat  kecil  dan  18,5  persen  menilai  bantuan  uang  tunai  lebih  penting  untuk
              diberikan.
              Sementara,  ada  12,1  persen  yang  menilai  penciptaan  lapangan  kerja  bagi  warga  yang
              kehilangan pekerjaan juga penting untuk dilakukan.

              Nurul  melihat,  angka  12,1  persen  ini  perlu  diteliti  kembali  berasal  dari  latar  belakang  yang
              seperti apa. Menurutnya, tidak sedikit memang masyarakat yang menilai kebutuhan akan skill
              baru pasca terkena PHK adalah solusi yang tepat untuk mengantisipasi dampak Covid-19 dan
              pemulihan ekonomi ke depannya.

              "Cara  berpikir  dan  preferensi  ini  yang  belum  umum  di  masyarakat.  Kita  perlu  yakinkan
              masyarakat bahwa skema bantuan tak selamanya sembako dan tunai saja," kata Nurul.

              Jawab Kebutuhan Ekonomi
              Nurul menilai program Kartu Prakerja juga tidak datang begitu saja sebagai bantalan ekonomi
              menghadapi  krisis.  Programnya  sudah  dimodifikasi  untuk  menjawab  kebutuhan  ekonomi
              sekarang.

              "Alokasinya ditingkatkan menjadi Rp20 triliun, jumlah target penerimanya ditambah menjadi 5,6
              juta orang, jumlah bantuannya juga ditingkatkan. Ini kan supaya relevan dengan kondisi saat
              ini tapi mampu menjadi solusi masalah ekonomi ke depannya," kata Nurul melanjutkan.

              Indikator  -  Politik  Indonesia  menyelenggarakan  survei  terkait  persepsi  publik  terhadap
              penanganan  Covid-19  dengan  melibatkan  1,200  responden  menggunakan  kontak  telepon.
              Tingkat  toleransi  kesalahan  survei  di  angka  2,9%  dan  tingkat  kepercayaannya  95%.  Survei
              dilakukan pada 16-18 Mei 2020 yang lalu.
































                                                           41
   37   38   39   40   41   42   43   44   45   46   47