Page 316 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 25 NOVEMBER 2021
P. 316

Terkait  sanksi,  dapat  dipelajari  lebih  rinci  pada  peraturan  perundangan  yang  bersangkutan.
              "Kami tidak perlu masukkan (sanksi) apa saja yang ada, yang penting dengan begitu, saya ingin
              mengingatkan  ke  pengusaha  untuk  mau  melihat  peraturan  yang  ada."  "Baik  yang  sifatnya
              administratif maupun yang melanggar ketentuan yang telah diputuskan," tambah Sri Sultan.

              Besaran UMK Kabupaten/Kota di DIY tahun 2022 Berikut ini rincian UMK Kabupaten/Kota di DIY
              Tahun 2022, dikutip Tribunnews.com dari Jogjaprov.go.id :

              1. Kota Yogyakarta, UMK 2022 ditetapkan menjadi Rp 2.153.970.

              Jumlah tersebut naik Rp 84.440 atau 4,08 persen dari tahun 2021.

              2. Kabupaten Sleman, UMK 2022 ditetapkan sebesar Rp 2.001.000.

              Jumlah tersebut naik Rp 97.500 atau 5,12 persen dari tahun 2021.

              3. Kabupaten Bantul UMK 2022 ditetapkan sebesar Rp 1.916.848.

              Jumlah tersebut naik Rp 74.388 atau 4,04, persen dari tahun 2021.

              4. Kabupaten Kulonprogo, UMK 2022 ditetapkan sebesar Rp 1.904.275.

              Jumlah tersebut naik Rp 99.275 atau 5,50 persen dari tahun 2021.

              5. Kabupaten Gunungkidul, UMK 2022 ditetapkan sebesar Rp 1.900.000.
              Jumlah tersebut naik Rp 130.000 atau 7,34 persen dari tahun 2021.

              Separuh Pengusaha Kesulitan Bayar Upah Menanggapi penetapan UMK DIY, Konfederasi Serikat
              Pekerja  Seluruh  Indonesia  (KSPSI)  Gunungkidul,  DI  Yogyakarta,  mengeklaim  baru  separuh
              perusahaan yang mampu membayar sesuai upah minimum kabupaten (UMK).

              "Setidaknya ada sekitar 50 sampai 60 persen perusahaan yang mampu membayar upah sesuai
              ketentuan,"  kata  Ketua  KSPSI  Gunungkidul  Budiyono  saat  dihubungi  wartawan,  Selasa
              (23/11/2021).

              Ia mengatakan, banyak perusahaan yang beroperasi di Gunungkidul bukanlah dalam skala yang
              besar. Selain itu, pekerja di Gunungkidul cenderung mudah untuk diajak negosiasi soal upah.
              Selama ada kesepakatan antara kedua belah pihak, upah rendah tidak jadi masalah.

              "Banyak pekerja yang memilih diam meski upahnya di bawah standar UMK," ucap Budi, dikutip
              Tribunnews.com dari Kompas.com.

              Pihaknya, berharap jika perusahaan mampu bisa membayar buruh dengan standar UMK dan jika
              sudah  dipenuhi  buruh  juga  harus  bekerja  secara  profesional.  Sekretaris  Asosiasi  Pengusaha
              Indonesia (Apindo) Gunungkidul, Heru Tricahyanto mengakui hal itu.

              Tetapi  ada  beberapa  faktor,  di  antaranya  ketidakpatuhan  atau  bisa  juga  ketidakmampuan.
              Ketidakmampuan ini bisa ditemukan untuk pengusaha skala kecil atau mikro. Dia menjelaskan,
              UU  Nomor  36/2021  tentang  Pengupahan  juga  sudah  menyebutkan  bahwa  standar  UKM
              dikecualikan bagi sektor usaha mikro. Merujuk pada regulasi itu, upah pekerja di usaha mikro
              ditentukan sesuai kesepakatan. Namun, tetap ada indikator yang mendasari.
              "Seperti paling sedikit 50 persen dari rata-rata konsumsi masyarakat dan minimal 25 persen di
              atas batas garis kemiskinan di tingkat provinsi," kata Heru. (Tribunnews.com/Suci Bangun DS,
              Kompas.com /Kontributor Yogyakarta, Markus Yuwono)


                                                           315
   311   312   313   314   315   316   317   318   319   320   321