Page 3 - A Thousand Sakura
P. 3
Tess… tess…
Ia terkejut melihat air mata yang mengalir dari pipi gadis itu. Ia terpana akan tangisan yang
ditahan gadis itu walaupun air matanya tak tertahankan lagi. Ia pikir, gadis ini mengalami hal
pahit yang membuatnya sedih. Saat itu dia seakan ingin rasa pahit gadis itu cepat sirna dan dia
ingin melihat seulas senyuman terlukis di bibirnya.
“Kamu tak apa-apa?” Ageha menoleh, ia mendapati sosok laki-laki rupawan yang menyodorkan
sapu tangan kepadanya sambil tersenyum lembut. Ageha meraih sapu tangan itu dengan
senyum kecil di bibirnya.
“Aku… tidak apa-apa,” jawabnya, sembari menyeka air matanya.
“Sedang apa kamu sendirian di sini? Dan… kenapa kamu menangis?”
Ageha diam. Laki-laki itu menyadari kata-katanya yang sangat tidak sopan untuk seseorang
yang baru saja bertemu. Ia pun mulai mencari kalimat yang dapat menghibur Ageha.
“Maaf, jika aku asal tanya. Oh iya, namaku Ryuga. Salam kenal.” Sahut laki-laki itu dengan
senyuman lebar di bibirnya.
“Aku Ageha. Salam kenal juga.”
“Wah… nama yang indah. Hm… kupu-kupu ya… indah sekali. Menurutku… kupu-kupu itu adalah
hewan yang cantik,”
Kening Ageha mengerut. Apa dia baru saja menggodaku?. Batinnya.
“Oh, maaf. Jika aku berkata yang tidak-tidak. Tapi kenapa kamu menangis sendirian di sini. Apa
tidak bahaya, di sini banyak orang mabuk, lho.”
“Tidak. Aku hanya ingin berfikir jernih saja. Lagi pula rumahku ada di dekat sini.”
“Benarkah? Rumahku juga ada di dekat sini. Aku baru pindah, makanya rumahku agak
berantakan. Jadi aku malas di rumah. BE-RAN-TAK-AN sekali.”
Ageha merasa geli dengan perilaku laki-laki yang ada di hadapannya ini. Tapi ia pikir, lelaki ini
bukanlah orang jahat. Senyuman tersinggung dari bibir Ageha.
“Kenapa tersenyum. Emang ada yang lucu dari aku?”
“Tidak. Tidak ada, kok. Aku hanya heran, dari semua orang yang melewati taman ini dari tadi.
Tidak ada satu pun yang berani menyapaku. Tapi… aku salut dengan keberanian kamu untuk
menyapaku.”
“Yah… tidak usah sungkan-sungkan. Aku orangnya memang seperti ini. Tidak bisa melihat
seorang perempuan menangis begitu saja.”
Ageha tersenyum.
“Makasih karena kamu sudah menghiburku. Aku mau pulang dulu, sampai nanti,”
“Eh, kapan-kapan ketemuan lagi ya.”
Ageha meninggalkan Ryuga dengan senyumannya. Ryuga menatap sosok Ageha yang perlahan
hilang ditelan kegelapan malam dihiasi bulan yang indah.
Keesokan harinya, Ageha pergi ke sekolah untuk menimba ilmu. Tapi, karena panyakit yang
diidapnya. Dia tak ingin turun sekolah. Tapi ibunya memaksanya untuk tetap bersekolah dan
mencari hal yang dapat menenangkan hati dan pikirannya. Karena tak ingin menyakiti hati ibu
untuk kedua kalinya. Akhirnya Ageha pergi ke sekolah dengan perasaan tak enak mengganjal di
hatinya. Sesampainya di sekolah, Ageha langsung disambut oleh kerabat baiknya dengan raut
wajah simpati atas apa yang menimpanya. Dan hal itu membuat Ageha kesal, sangat kesal. Ia
tak ingin teman-temannya menganggap bahwa ia sebentar lagi akan meninggalkan mereka.

