Page 6 - A Thousand Sakura
P. 6
tujuan hidup dan tidak mendapatkan semangat hidup dari orang lain…”
“Mendapatkan semangat hidup dari orang lain… orang lain…”
Ageha meneteskan air matanya.
“Mendapatkan semangat hidup dari orang lain yang peduli dengan saya. Dan saat ini tidak ada
satu pun orang yang peduli dengan saya. Dan saya takut, saya takut jika ajal tersebut
mendatangi saya dengan cepat. Saya takut…”
Ageha mengeluarkan isi hatinya sambil meneteskan air mata. Pak Nakao melihat muridnya
dengan pandangan iba, ia tidak menyangka Ageha yang selalu berekspresi kuat dan tak takut
dengan penyakitnya. Ternyata sangat rapuh dan rentan. Nakao menatap mantap muridnya.
“Maka… maka berusahalah untuk selalu hidup!”
Ageha mengangkat wajahnya, terkejut akan kalimat yang dikatakan pak Nakao.
“Berusahalah hidup untuk ibumu. Berusahalah hidup untukku. Berusahalah hidup untuk orang
yang menyayangimu. Berusahalah hidup untuk dirimu sendiri. Berusahalah hidup untuk masa
depanmu…”
Pak Nakao mendekati Ageha dan bediri di sampingnya serta memegang tangan Ageha.
“Berusahalah hidup untuk satu hal yang dapat membuatmu kuat. Kuatlah, karena putus asa
bukanlah jalan keluar untuk sembuh dari penyakitmu. Buanglah rasa takut yang ada di dalam
dirimu. Bapak akan selalu mendukungmu untuk hidup, dan begitu pula ibumu. Dia tentu tidak
ingin melihat anaknya menjadi seperti ini. Maka untuk itu, berusahalah hidup untuk semua
orang yang peduli dan sayang padamu.”
Ageha terdiam sejenak mendengar semangat yang diberikan oleh pak Nakao. Tangis Ageha
lepas dalam pelukan pak Nakao yang hangat. Air mata kesedihan yang selama ini ia tahan
terlepaskan. Yang ada hanyalah air mata kebahagiaan yang telah diberikan oleh pak Nakao
untuk dirinya.
“Sebenarnya semua nilai yang kau peroleh ketika kau aktif. Semuanya nilai yang baik. Dengan
nilai ini, mungkin kamu akan dengan mudah diterima di SMA bergengsi.”
Pak Nakao membolak-balik data Ageha yang ia pegang.
“Asalkan kau aktif belajar dan selalu masuk sekolah. Bapak yakin kamu akan lulus walaupun
absensi kamu yang banyak akan merepotkan bapak. Karena harus berdebat dengan guru yang
lain.”
“Iya, pak. Saya akan berusaha. Terima kasih atas bantuan bapak selama ini.”
“Oh, tidak apa-apa. Kamu sudah bapak anggap seperti anak bapak sendiri. Jadi jangan
sungkan.”
Ageha tersenyum.
“Kalau begitu. Saya permisi dulu, pak.”
“Ageha…”
Langkah Ageha terhenti dan tidak jadi menutup pintu ruang pak Nakao.
“Kamu harus selalu mengingat kata-kata bapak tadi.”
“Baik, pak. Saya akan selalu mengingatnya.”
Ageha meninggalkan ruangan pak Nakao. Ageha berjalan menelusuri koridor SMP Swasta
Madoka High yang sangat panjang. Sebersit perasaan bersalah muncul. Dari dulu cuma pak
Nakao yang selalu mensuportnya, sedangkan teman baiknya hanya ingin bersenang-senang

