Page 4 - A Thousand Sakura
P. 4
“Ageha, aku turut prihatin dengan keadaan kamu.”
“Iya, aku juga. Bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat di mana kita bisa menikmati masa-
masa terakhir kami denganmu.”
“Iya. Kami tidak ingin kamu pergi, Ageha”
“Sudah cukup!!!!! Aku tak ingin medengarkan omongan kalian tentang aku akan pergi atau
tidak. Kalian seperti mengharapkan aku lekas mati! Seharusnya kalian memberikanku
semangat untuk hidup! Bukan sebaliknya!” Bentaknya.
Semua murid yang ada di kelas menatap Ageha dengan pandangan yang menusuk. Tanpa
peduli, ia berjalan melewati teman-temannya, dan duduk di kursinya. Setelah inisiden itu, guru
yang mengajar fisika pun masuk ke dalam kelas. Ketua kelas langsung memberikan aba-aba
kepada semua murid untuk memberi hormat.
“Berdiri,”
“Beri hormat,”
“Selamat pagi, pak.” Ucap semua murid yang ada di dalam kelas.
“Selamat pagi. Ya, anak-anak. Hari ini kalian mendapatkan teman baru.”
Seluruh murid mulai bergemuruh.
“Tenang… tenang! Dia adalah murid pindahan dari Tokyo, jadi kalian semua harus
membantunya beradaptasi di lingkungan sekolah.”
“Baik pak…”
“Ya, bagus. Kalo begitu silahkan masuk, Suzuki.”
Lelaki muda berbadan tegap dan berbahu bidang yang tampan masuk ke dalam kelas. Dia
adalah murid baru yang diungkit guru tadi. Ketika laki-laki itu masuk, semua perempuan yang
ada di dalam kelas tercengang. Melihat betapa gagahnya murid baru itu. Dan mulai
bergemuruh.
“Tenang semuanya! Jangan ribut! Ya, silahkan suzuki. Perkenalkan dirimu.”
“Baik. Perkenalkan nama saya Suzuki Ryuga. Kalian bisa panggil saya Ryuga, mohon
bantuannya.”
Ageha yang sedang memasukan buku pelajarannya ke dalam laci. Merasa mendengar nama
yang tak asing di telinganya. Ia kemudian menoleh ke anak baru yang berdiri di depan kelas itu.
Dan ia langsung tahu bahwa murid baru itu adalah lelaki yang ia temui malam tadi. Tapi reaksi
Ryuga ketika melihat Ageha sangatlah dingin. Dia hanya melihat Ageha dengan pandangan
dingin dan kembali berkonsentrasi dengan seisi kelas.
“Terima kasih. Kamu bisa duduk sekarang.”
Ryuga berjalan melalui bangku-bangku murid lain dengan tatapan berbinar dari para gadis. Ia
menemukan bangku kosong di belakang Ageha, dan ia berjalan menuju bangku kosong itu.
Saat mereka berpapasan, Ageha hanya tertunduk diam dan mebiarkan laki-laki itu melewatinya
serta duduk di belakangnya.
Ternyata semua laki-laki sama saja. Batinnya.
Guru fisika yang sering dipanggil Nakao sensei itu mengabsen semua murid yang ada di dalam
kelas.

