Page 5 - A Thousand Sakura
P. 5
“Abbechi?”
“Hadir.”
“Ageha? Apa Ageha hadir?”
“Saya hadir, sensei.” Jawab Ageha.
Guru tersebut memandang Ageha yang tertunduk diam. Sewaktu dokter memvonis bahwa ia
kena kanker hati. Ageha tidak pernah masuk sekolah. Dan walaupun masuk sekolah, ia tidak
ada di dalam kelas. Melainkan di atas atap.
“Ageha, nanti bisa ikut saya ke kantor guru?”
“Iya, sensei.”
Ageha beranjak dari tempat duduknya, diikuti pak Nakao. Tapi sebelum keluar, pak Nakao
berpesan kepada muridnya.
“Anak-anak, kalian saya tinggal sebentar. Kalian self–study saja. Kalau begitu bapak permisi.”
“Baik, sensei.”
Ketika pak Nakao dan Ageha meninggalkan ruangan kelas 3-2, seluruh murid yang ada di kelas
langsung ribut dan siswi perempuan mulai mengerubungi Ryuga. Bertanya-tanya apa dia punya
pacar, rumahnya di mana, alamat E-mailnya apa, serta tipe perempuan yang ia sukai. Ryuga
menanggapinya dengan santai, ia menjawab semua pertanyaan yang di berikan oleh semua
siswi perempuan yang nge-fans dengannya. Sementara siswa laki-laki mulai mendekati Ryuga
dan mengajaknya bergaul dan dia langsung berbaur dengan mereka. Sebuah kalimat muncul di
pikirannya. Ternyata gadis yang kutemui malam tadi bersekolah di sini. Aku tak menyangka itu.
Tapi melihat dari ekspresi wajahnya, sepertinya ia terkejut dengan perlakuanku yang sangat
berbeda dari malam itu. Dasar perempuan bodoh, perempuan memang mudah dikelabui.
Batinnya.
Sementara itu di kantor guru. Ageha terduduk diam dengan wajah tertunduk. Di depan Nakao
sensei terdapat tumpukan absensi dirinya yang sudah terlalu banyak. Pak Nakao menghela
nafas, ia sangat tidak mengerti dengan muridnya ini.
“Ageha, bapak tahu dengan keadaan yang sedang yang kau alami saat ini. Tapi hal tersebut
jangan membuatmu berhenti bersekolah.”
Ageha hanya diam, tidak mendengar kalimat yang dikatakan pak Nakao.
“Hhh… jika kamu terus seperti ini. Bapak tidak jamin kamu akan lulus. Kamu terlalu banyak
absen. Apa kamu ingin membuat ibumu kecewa?”
Ageha menggelengkan kepalanya. Dan berkata.
“Sensei. Menurut sensei apakah saya akan sembuh?”
Nakao terkejut mendengar perkataan muridnya yang tiba-tiba. Ia tahu Ageha terkena kanker
hati stadium akhir yang sukar untuk di sembuhkan. Tapi jika Ageha bertanya seperti itu
membuatnya kehabisan kalimat dan terdiam.
“Apakah saya bisa mengikuti ujian negara? Dengan keadaan yang saya yang seperti ini. Dan
tidak adanya orang yang memberikan saya semangat untuk hidup. Apakah saya akan bertahan
menghadapi semuanya…”
“Teman baik yang dulu saya punyai selalu mengatakan hal yang sangat saya benci. Mereka
merasa saya akan segera meninggalkan dunia ini. Terlebih lagi, saya tentu tidak ingin
mengecewakan ibu saya dan juga tidak ingin meninggalkannya. Saat ini saya tidak memiliki

