Page 685 - Gabungan
P. 685

tengah benar-benar terkejut. Meski pagi tadi Yenni dan Hana sempat


            membicarakan rencana duet ini, ia mengira itu hanya gurauan belaka.


            Di  sebelahnya,  ayahnya  dan  Dr.  Emil  yang  berseragam  militer


            mengangguk sambil memandangnya dengan keyakinan. Bai Wenjie


            pun  berdiri,  menatap  sekeliling  -  pasangan  Zhou,  Tuan  Li  Zihou,


            keluarga Untung Budiman, hingga kakak iparnya - semua tersenyum


            mendukung.


                Dengan  langkah  tegap,  Bai  Wenjie  menapaki  panggung  diiringi


            tepuk tangan yang tak kunjung padam. Ia membungkuk hormat, lalu


            tersenyum pada Yenni:


                "Kita nyanyikan apa?"


                "'Lagu Pemuda' saja!" jawab Yenni.


                Setelah  mengangguk,  Yenni  dengan  sikap  penuh  percaya  diri

            mengumumkan:


                "Hadirin sekalian! Kami akan menyanyikan 'Lagu Pemuda'!"


                Gemuruh  tepuk  tangan  disusul  dentuman  drum  dan  tiupan


            terompet yang membahana. Orkes pengiring tampak bersemangat,


            seolah membawa energi yang menggemparkan.


                Yenni dan Bai Wenjie pun berduet:


                "Wahai pemuda, hai pemuda,


                Kami bertekad, kami bercita-cita.


                Tak gentar gunung tinggi jalan berliku,

                                                           685
   680   681   682   683   684   685   686   687   688   689   690