Page 737 - Gabungan
P. 737
Lani tak kuasa menahan duka—"Waah!"—ia meledak dalam tangisan.
Bai Wenying, Hana Budiman, dan Zhou Lijuan pun ikut menangis.
Langit seakan ikut berduka. Mendung pekat, petir menggelegar,
hujan lebat mencurah.
Panitia Panti Asuhan "Santa Carlos" menggelar upacara
peringatan megah untuk Yenni di aula utama. Kementerian Sosial dan
Pemuda mengirim pejabat untuk membacakan sambutan menteri.
Koran-koran memuat biografi Yenni, menyoroti kontribusinya dalam
penanganan korban letusan Gunung Galunggung. Satu artikel
menulis: " Yenni menguras seluruh tenaga hingga kolaps di panggung
amal—seperti prajurit yang gugur di medan perang." Ketua
Perkumpulan Pemuda Kota Naga menyerukan agar generasi muda
meneladani semangat Yenni.
Petak jenazah Yenni didirikan di panggung aula. Karangan bunga
memenuhi setiap sudut.
Pemakaman dilaksanakan dengan ritus Kristen. Makam dipilih di
lereng bukit yang cerah, di antara pemakaman Tionghoa. Bai Datou
sendiri menemani Lani dan Wenjie memilih lokasi. Dengan sengaja,
ia memilih tempat dekat makam Zhou Mi—agar ayah dan anak ini
bisa saling bersanding. Niat halus Bai Datou tak terlihat oleh Wenjie,
tapi Lani dalam hati berterima kasih pada kelapangan hati suaminya.
Sementara Wenjie berencana memasang potret Yenni yang pernah
737

