Page 738 - Gabungan
P. 738

ia lukis di nisan, sebagai kenangan abadi.


                Pada  hari  pemakaman,  iring-iringan  mobil  mencapai  tiga


            kilometer—lebih megah daripada pemakaman Zhou Mi. Makam Yenni


            dipadati  orang  dari  segala  usia  dan  latar  belakang.  Mereka  yang


            pernah  mengenal  Yenni  di  dunia  seni  berduka  atas  kepergiannya


            yang terlalu cepat.


                Lani terharu melihat betapa putrinya dicintai banyak orang. Dalam


            usia yang singkat, seorang yatim piatu biasa bisa bersinar demikian—


            berapa  banyak  kerja  keras,  bimbingan,  dan  dukungan  yang  telah


            membentuknya?


                Ia  merasa  bersalah.  Ia  melahirkan  Yenni,  tapi  tak  sempat


            mengasuhnya. Takdir  bermain  kejam:  pertemuan  setelah  22  tahun


            justru  menjadi  perpisahan  abadi.  Lani  yang  telah  menjalani  hidup

            berliku tak menyangka akan dihantam ujian seberat ini.


                Di  atas  makam  Yenni,  Lani  menangis  tersedu.  Wenjie


            memapahnya  duduk  di  bawah  pohon.  Melihat  tetua  seperti  Kakek


            Zhou dan Li Zihou datang berduka, Lani membungkuk hormat:


                "Kakek Zhou, Paman Li... terima kasih."


                Li Zihou bangkit dengan tongkat, bibirnya gemetar:


                "Ini salah Dewa Kematian! Pemuda berbakat seperti Yan Ni pergi


            terlalu cepat. Andai bisa kutukar nyawaku yang tua ini..."


                Wenjie  menghela  napas:  "Semua  pasti  mati.  Tapi  sungguh

                                                           738
   733   734   735   736   737   738   739   740   741   742   743