Page 35 - FLIPBOOK Psikotropika
P. 35

Pemberian obat kepada pasien yang datang berobat pada seorang dokter merupakan salah
               satu mata rantai proses pengobatan. Pasien datang, mengeluhkan penyakitnya. Selanjutnya,
               dokter  melakukan  berbagai  pemeriksaan  (termasuk  pemeriksaan  penunjang),  menegakkan
               diagnosis, menyusun program terapi (salah satunya pemberian obat), dan monitoring secara
               reguler untuk mengawal ke proses kesembuhan. Pemberian obat akan berlanjut dengan kontrol
               ulang dalam waktu yang ditentukan. Gejala-gejala penyakit harus dikawal, dan naik-turunnya
               dosis obat dikendalikan oleh dokter. Sehingga, apabila pasien tidak mendapatkan obat dari
               dokter, siapa yang mengendalikan gejala serta mengatur tinggi-rendahnya dosis obat?

               Wacana 3.
                             Kapolri: Penyalahgunaan Psikotropika Masih Dianggap Biasa

                     Kapolri Jenderal Tito Karnavian memastikan polisi akan menindak tegas penyalahguna
               psikotropika.  Menurut  dia,  penindakan penyalahgunaan  psikotropika  sudah  dalam  Undang-
               Undang Nomor 35 Tentang Narkotika.

                     "Penggunaan  barang-barang  psikotropika  sudah  diatur  undang-undang,  khususnya
               psikotropika golongan 4," kata Tito di acara pemusnahan narkoba, Garbage Plant Bandara
               Soekarno  Hatta,  Tangerang,  Banten,  Selasa  (15/8/2017).  Tito  mengatakan  seharusnya
               psikotropika  tidak  dijual  bebas  di  pasaran.  Perlu  resep  dari  dokter  untuk  orang  yang  akan
               mengonsumsi obat-obatan tersebut.
                     Hanya, kata dia, psikotropika ini kerap disalahgunakan segelintir orang. Namun, ketika
               ditindak malah timbul pro-kontra. "Di kita (Indonesia) masih bebas. Begitu digebrak sedikit
               langsung ada pro-kontra, karena dianggap biasa," ucap Tito Karnavian.

               Wacana 4.
                         Pelajar Nganjuk di Pusaran Narkoba: 9 Tersangka, Puluhan Direhab

                       Jumlah pelajar yang terjangkit narkoba masih terus bertambah. Tahun ini, sedikitnya
               ada  sembilan  siswa  yang  menjadi  tersangka  dan  harus  merasakan  dinginnya  sel  penjara.
               Puluhan lainnya direhab setelah orang tua proaktif melapor ke BNNK Nganjuk.

                       Kepala BNNK Nganjuk AKBP Bambang Sugiharto mengatakan, selama 2020 ini total
               ada sekitar 40 pelajar jenjang SMP dan SMA yang sudah direhab oleh instansinya. “Mereka
               yang direhab ini karena orang tua atau pihak sekolah proaktif melapor,” ujar Bambang sembari
               menyebut pintu Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) sebagai tempat laporan

                       Lebih jauh Bambang menyebut, kasus narkoba tak ubahnya fenomena gunung es. Yang
               terlihat di permukaan sedikit tetapi kasus yang sebenarnya jauh lebih banyak. BNNK, jelas
               Bambang,  memiliki  keterbatasan  anggaran  dalam  pelaksanaan  rehabilitasi  pecandu
               narkoba. Jika tahun 2018 lalu bisa merehab hingga 100 pecandu, sejak 2019 dan tahun ini
               hanya mendapat kuota sekitar 40 orang setahun. Karenanya, dia meminta orang tua dan pihak
               sekolah  untuk  memberi  perhatian  khusus  kepada  anak-anak.  Sehingga,  komunikasi  anak
               dengan orang tua dan guru bisa lebih baik lagi.







                                                                                                      29
   30   31   32   33   34   35   36   37   38   39   40