Page 417 - BUKU KATA FADLI CATATAN KRITIS DARI SENAYAN
P. 417

KEMERDEKAAN   BAB XIX
                                                                            PERS




                                                (2)

                              PEMBLOKIRAN MEDIA SOSIAL
                                ADALAH PRESEDEN BURUK
                                      BAGI DEMOKRASI





                            ESUDAH menerbitkan Perppu No. 2/2017 tentang Organisasi
                            Kemasyarakatan yang kontroversial pada Senin, 10 Juli 2017),
                            hari Jumat kemarin, 14 Juli 2017, pemerintah mengumumkan
                            pemblokiran Telegram, sebuah platform layanan pesan singkat
                Syang segera memicu protes kalangan pengguna internet.
                 Kebijakan pemblokiran itu pantas membuat kita cemas.
                      Telegram adalah platform media sosial yang bersifat terbuka, bisa
                 digunakan oleh siapapun. Pemblokiran dengan alasan bahwa platform itu
                 digunakan untuk konten yang menyebarkan terorisme sangat berlebihan.
                 Mestinya yang jadi obyek tindakan hukum adalah akun-akun di dalamnya,
                 bukan platform-nya.
                      Semua platform media sosial saya kira bisa digunakan untuk konten
                 apapun, baik positif maupun negatif. Katakanlah  sebuah platform 15
                 persen penggunanya adalah pengakses konten kekerasan, atau industri
                 pornografi, masak iya  platform-nya yang ditutup dengan mengabaikan
                 85 persen pengguna tujuan lainnya?! Mestinya pemerintah memilih untuk
                 berkomunikasi  dan  bekerjasama  dengan  perusahaan  penyedia  platform,
                 sehingga tidak terkesan otoriter!
                      Dalam satu pekan ini saya mencatat pemerintah sudah dua kali
                 menerbitkan kebijakan yang berpotensi mengancam prinsip kebebasan
                 berserikat dan mengeluarkan pendapat, yaitu penerbitan Perppu Ormas,
                 dan  kini pemblokiran  platform media  sosial.  Saya khawatir kita  sedang
                 menuju pada otoritarianisme gaya baru.
                      Meskipun terorisme secara riil ada di Indonesia, tapi kita tidak
                 sedang mengalami darurat terorisme. Jadi, stop menggunakan isu
                 terorisme sebagai alasan bagi situasi kegentingan. Tidak ada yang genting




                                                                  CATATAN-CATATAN KRITIS  439
                                                                         DARI SENAYAN
   412   413   414   415   416   417   418   419   420   421   422