Page 320 - BUKU NATIONAL INTEREST DAN AGENDA PEMBANGUNAN EDISI KE-2
P. 320

KEPENTING AN NASIONAL D AN A GEND A PEMBANGUNAN


                   yang muncul selama ini dan bagaimana mengatasinya. Termasuk bagaimana
                   mengatasi  perusahaan  pinjol  yang beroperasi dari  luar  negeri. Ini  harus
                   segera dilakukan agar situasi tidak semakin memburuk.
                      Menurut  data Satgas Waspada  Investasi (SWI) Otoritas Jasa Keuangan
                   (OJK), penegakan hukum  penanganan pinjol  masih  menghadapi  banyak
                   masalah,  terutama yang ilegal. Mereka sulit  untuk  ditangani  karena
                   dari  pemilik  pinjol  ilegal karena hanya  22% saja  yang memiliki  server di
                   Indonesia. Sedangkan, 44% lainnya tidak terdeteksi dan sisanya berada di
                   luar negeri.
                      Wakil rakyat dari  Partai Nasdem ini  menilai,  maraknya pinjol  ini  juga
                   harus menjadi indikator bagi otoritas keuang untuk perlu instrospeksi bagi
                   lembaga-lembaga  keuangan  seperti bank,  koperasi, dan  PNM. “Maraknya
                   pinjol  tidak  terlepas dari  ketidakmampuan  bank,  koperasi dan  PNNM
                   menjangkau orang-orang yang sedang kesusahan tersebut,” katanya.
                      Karena itu, Gobel berpendapat, pemerintah dan otoritas keuangan segara
                   memperkuat  perbankan  untuk  rakyat  kecil, koperasi, dan  PNM. “Berikan
                   prosedur yang lebih mudah,” katanya. Selain itu, katanya, juga memperkuat
                   jejaringnya agar bisa menjangkau ke seluruh pelosok negeri.
                      Menurut survei Bank  Indonesia (BI), pelaku  usaha kecil yang sudah
                   mendapat aliran kredit dari bank sebenarnya baru  mencapai 30,5% dari
                   total UMKM yang ada di  dalam  negeri. Sementara sisanya 69,5% belum
                   mendapat akses kredit dari  bank  dan  dari  jumlah  ini  sekitar 43% dinilai
                   sangat membutuhkan kredit dengan potensi bisa mencapai Rp 1.600 triliun.
                      “Jadi credit gap atau kesejangan kredit masih tinggi, oleh karena itu tidak
                   boleh menyalahkan masyarakat jika mereka tergiur dengan pinjol. Mereka
                   sangat membutuhkan pembiyaan, tapi bank, koperasi dan PMN tidak mampu
                   melayani kebutuhan itu. Kondisi inilah yang harus dibehani,” kata Rachmat
                   Gobel.
                      Dari  sisi  regulasi,  menurut  Rachmat  Gobel,  perlindungan  terhadap
                   masyarakat belum kuat karena kehadiran  perusahaan pinjol  baru  diatur
                   berdasarkan Peraturan OJK No.77 Tahun 2016.  Selain itu, sampai saat ini
                   UU Perlindungan Data Pribadi belum juga bisa disahkan karena pemerintah
                   tidak setuju dibentuknya lembaga pengawas yang bersifat independen.
                      Terkait dengan aktivitas keuangan digital seperti pinjol, Indonesia
                   membutuhkan  UU  Financial  Technology  (Fintech)  dan UU  Perlindungan
                   Data  Pribadi.  Namun  sampai  saat  ini  UU  Fintech  masih  menjadi  wacana,
                   sementara untuk pembahasan UU Perlindungan Data Pribadi terganjal sikap
                   pemerintah. (*)




                                                      302
   315   316   317   318   319   320   321   322   323   324   325