Page 315 - BUKU NATIONAL INTEREST DAN AGENDA PEMBANGUNAN EDISI KE-2
P. 315
KIPRAH TAHUN KEDUA WAKIL KETUA DPR/KORINBANG DR. (H.C.) RACHMAT GOBEL
“Jika tidak ada upaya kongkrit untuk mendorong pertumbuhan
konsumsi, termasuk di sektor pemerintah, bisa dipastikan pencapaian target
pertumbuhan 2021 ini bisa terganggu dan ini akan memberi dampak luas,”
kata Rachmat Gobel.
Menurut data Kantor Menko Perekonomian, per 5 November lalu realisasi
penyerapan dana PEN baru mencapai baru mencapai 61,3% atau senilai Rp
456,35 triliun dari pagu Rp 744,77 triliun. Penyerapan ini tergolong lambat,
karena waktu yang tersisa untuk menuntaskan realisasi dana ini agar sesuai
target tinggal 2 bulan.
Penyerapan terendah pada dukungan UMKM dan korporasi yang baru
mencapai Rp 62,60 triliun atau 38,5% dari pagu Rp 162,40 triliun. Penyerapan
tertinggi pada insentif usaha, realisasi insentif usaha mencapai 95,8% dari
pagu Rp 62,83 triliun dan perlindungan sosial mencapai Rp 125,10 triliun
atau 67% dari pagu Rp 186,64 triliun.
Lainnya, realisasi anggaran untuk klaster kesehatan mencapai 54,3% atau
Rp 116,82 triliun dari pagu Rp 214,96 triliun dan program prioritas mencapai
Rp 65,69 triliun atau 55,7% dari pagu Rp 117,94 triliun.
Mengenai penyerapan dana APBD, menurut data Kementerian Keuangan
melaporkan, melaporkan realisasi belanja hingga akhir September masih
rendah, baru mencapai Rp 603,57 triliun secara year on year (yoy) atau
kontraksi 2,11% dibandingkan periode yang sama tahun lalu tercatat Rp
616,59 triliun. Angka tersebut baru memenuhi 49,56% dari pagu belanja
sebesar Rp 1.217,74 triliun.
“Baik pemerintah pusat maupun daerah harus segera mendorong
percepatan belanja untuk memacu pertumbuhan ekonomi di sisa waktu
Kuartal IV ini,” ujar Rachmat Gobel.
Rachmat Gobel cukup yakin, jika pemerintah pusat dan daerah mampu
mendorong percepatan realisasi pos belanja APBN dan APBD, peluang untuk
mencapai target partumbuhan ekonomi untuk 2021 bisa tercapai. Dengan
terus diperlonggarnya pelaksanaan PPKM, mobilitas ekonomi diharapkan
bisa meningkat seperti terlihat dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK).
Berdasarkan survei Bank Indonesia, seiring dengan diperlonggarnya
PPKM, sejak Oktober lalu konsumen kembali optimistis akan kondisi
perekonomian. IKK pada Oktober berada di level 113,4 atau lebih tinggi
dibandingkan bulan sebelumnya pada 95,5.
“Momentum untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi sepanjang
Kuartal IV ini cukup terbuka, dan ini yang harus dimanfaatkan oleh
pemerintah dengan mempercepat penyerapan pos belanja APBN dan APBD,’
kata Rachmat Gobel. (*)
297

