Page 443 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 443
B. SARAN
Meskipun MK cenderung memaknai HMN dalam konteks Hak
Publik, tidak dapat dinafikan bahwa negara juga memiliki hak privat atas
tanah, air dan sumber daya alam. Oleh karena itu, HMN seyogyanya
dipahami dalam dua fungsi. Pertama, dalam konteks hak publik, HMN
merupakan perwujudan kedaulatan rakyat Indonesia atas wilayahnya
yang dalam porsi tertentu dikuasakan oleh negara untuk sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat. Dalam hal ini negara hanya menjadi pengatur dan
menjamin distribusi dan alokasi penguasaan sumber daya alam yang adil
dan seimbang.
Sedangkan yang kedua, HMN sejatinya juga mengandung dimensi
hak privat, dimana negara dapat menguasai sumber daya, terutama tanah,
secara fisik sebagai hak kebendaan. Penguasaan itu diperlukan untuk
penyelenggaraan negara yang efisien dan menjamin tersedianya fasilitas
umum yang memadai bagi rakyat Indonesia. HMN dalam dimensi privat
tersebut contohnya adalah jalan umum, rumah sakit, sekolah dan fasilitas-
fasilitas lain yang menjamin kepentingan umum. Dalam konteks negara
sebagai badan hukum publik, HMN tidak dapat diposisikan lebih tinggi
dari hak-hak perseorangan atau kolektif lainnya. Kedudukan diantara
hak-hak tersebut harus ditempatkan setara satu sama lain. HMN tidak
diposisikan berada di atas sebagai induk dari hak-hak lainnya, melainkan
berbagi wilayah penguasaan dengan hak-hak perseorangan dan kolektif
tersebut, sebagaimana ditegaskan dalam putusan MK terhadap Perkara Uji
Materi UU Kehutanan bahwa “wewenang negara dibatasi sejauh isi dan
wewenang hak ulayat” dan “Negara hanya mempunyai wewenang secara
tidak langsung terhadap hutan adat”.
***
412 Hubungan Keagrariaan

