Page 438 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 438

13.  Berdasarkan ciri-ciri tersebut pemberian HP-3 atas wilayah pesisir
                   dan pulau-pulau kecil mengakibatkan adanya pengalihan kepemilikan
                   dan penguasaan oleh negara dalam bentuk single ownership dan closed
                   ownership kepada seseorang, kelompok masyarakat atau badan hukum
                   atas wilayah tertentu dari wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, yang
                   dapat menutup akses bagi setiap orang atas wilayah yang diberikan
                   HP-3.

                   Berdasarkan beberapa pertimbangan MK tersebut di atas, nampak
             upaya MK dalam menempatkan HMN dalam posisinya yang setara dengan
             hak-hak perorangan atau kelompok. Hal ini ditegaskan seperti pada kalimat
             “harus juga memperhatikan hak-hak yang telah ada, baik hak individu
             maupun hak kolektif yang dimiliki masyarakat hukum adat (hak ulayat),
             hak masyarakat adat serta hak-hak konstitusional lainnya yang dimiliki oleh
             masyarakat dan dijamin oleh konstitusi”. HMN tidak diposisikan berada
             di atas sebagai induk dari hak-hak lainnya, melainkan berbagi wilayah
             dengan dengan hak-hak perseorangan dan kolektif tersebut, sebagaimana
             ditegaskan bahwa “wewenang negara dibatasi sejauh isi dan wewenang hak
             ulayat” dan “Negara hanya mempunyai wewenang secara tidak langsung
             terhadap hutan adat”.
                   Dalam konteks hak privat, HMN ditempatkan sejajar dengan hak-
             hak lain atas tanah dan sumber daya alam. Sedangkan dalam konteks
             publik, HMN tidak ditujukan untuk memberikan negara hak milik atas
             tanah, melainkan memberikan wewenang kepada negara untuk mengatur,
             mengelola dan mengawasi penggunaan tanah, air dan sumber daya alam
             lainnya. MK dalam Putusan No. 35 menyatakan: “Sebagai perbandingan,
             dalam hukum pertanahan, hak “menguasai dari negara” tidak memberi
             kewenangan untuk menguasai tanah secara fisik dan menggunakannya seperti
             hak atas tanah, karena sifatnya semata-mata hukum publik sebagaimana
             dimaksud dalam Pasal 2 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang
             Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (selanjutnya disebut Undang-Undang
             Pokok-pokok Agraria), yakni wewenang hak menguasai dari negara digunakan
             untuk mencapai sebesar-besar kemakmuran rakyat dalam arti kebangsaan,
             kesejahteraan, dan kemerdekaan dalam masyarakat dan negara hukum
             Indonesia yang merdeka, berdaulat, adil, dan makmur”.
                   Berkaitan dengan aspek publik dan aspek privat yang terkandung
             dalam HMN, Achmad Sodiki juga memberikan pandangannya bahwa



                       Pemaknaan Hak Menguasai Negara Oleh Mahkamah Konstitusi  407
   433   434   435   436   437   438   439   440   441   442   443