Page 434 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 434

Hutan adat dalam kenyataannya berada dalam wilayah hak ulayat.
                   Dalam wilayah hak ulayat terdapat bagian-bagian tanah yang bukan
                   hutan yang dapat berupa ladang penggembalaan, kuburan yang berfungsi
                   untuk memenuhi kebutuhan umum, dan tanah-tanah yang dimiliki
                   secara perseorangan yang berfungsi memenuhi kebutuhan perseorangan.
                   Keberadaan hak perseorangan tidak bersifat mutlak, sewaktu-waktu haknya
                   dapat menipis dan menebal. Jika semakin menipis dan lenyap akhirnya
                   kembali menjadi kepunyaan bersama. Hubungan antara hak perseorangan
                   dengan hak ulayat bersifat lentur. Hak pengelolaan hutan adat berada pada
                   masyarakat hukum adat, namun jika dalam perkembangannya masyarakat
                   hukum adat yang bersangkutan tidak ada lagi, maka hak pengelolaan
                   hutan adat jatuh kepada Pemerintah [vide Pasal 5 ayat (4) UU Kehutanan].
                   Wewenang hak ulayat dibatasi seberapa jauh isi dari wewenang hak
                   perseorangan, sedangkan wewenang negara dibatasi sejauh isi dan wewenang
                   hak ulayat. Dengan cara demikian, tidak ada tumpang tindih (kejumbuhan)
                   antara wewenang negara dan wewenang hak masyarakat hukum adat yang
                   berkenaan dengan hutan. Negara hanya mempunyai wewenang secara tidak
                   langsung terhadap hutan adat. 43
                   Putusan MK ini secara garis besar membawa sebuah preseden
             positif bagi pengakuan hak-hak masyarakat hukum adat, terutama dalam
             relasinya dengan HMN. Putusan ini juga memberikan posisi tawar yang
             lebih baik dan mendudukkan masyarakat hukum adat sebagai entitas yang
             memiliki kedaulatan terbatas, dan tidak hanya sekedar menjadi sub-ordinat
             pemerintah dalam pemanfaatan tanah dan sumber daya alam.
                   Hutan Negara pada mulanya terbentuk dari klaim kepemilikan
             oleh pemerintah kolonial atas wilayah yang ditetapkannya sebagai hutan,
                                                  44
             termasuk di dalamnya adalah wilayah adat Pada tahap ini, negara bermaksud
             untuk mendapatkan pendapatan dari ekstraksi sumberdaya alam. Tahap
             berikutnya adalah menetapkan batas-batas tanah yang dinyatakan sebagai
             milik negara untuk menekankan kontrol wilayah oleh negara terhadap
             sumberdaya alam. Setelah batas-batas sebuah wilayah ditetapkan, wilayah
             itu akan menjadi tertutup dan negara melarang siapa pun untuk mengakses
             wilayah tersebut berikut sumberdaya alam di dalamnya, kecuali jika negara


                   43 Putusan Mahkamah Konstitusi terhadap Perkara Nomor 35/PUU-X/2012, hlm. 172.
                   44 Noer Fauzi Rachman dan Mia Siscawati, 2014, Masyarakat Hukum Adat Adalah
             Penyandang Hak, Subjek Hukum, dan Pemilik Wilayah Adatnya: Memahami secara Kontekstual
             Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia atas Perkara Nomor 35/PUU-X/2012,
             INSISTPress, Yogyakarta, Hlm. 4.


                       Pemaknaan Hak Menguasai Negara Oleh Mahkamah Konstitusi  403
   429   430   431   432   433   434   435   436   437   438   439