Page 435 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 435

mengizinkan atau memberikan konsesi. Tahap terakhir adalah ketika negara
            meluncurkan program di mana negara membagi-bagi hutan dalam berbagai
            macam fungsi berdasarkan kriteria ilmiah, seperti lereng, curah hujan, dan
            tipe tanah. Hasil utama program ini adalah zonasi terhadap sebuah wilayah
            untuk mengatur tipe-tipe aktivitas yang diizinkan pada setiap zona. 45
                 MK memberikan pendapatnya terkait dengan bagaimana seharusnya
            relasi negara dan masyarakat hukum adat dalam konteks pengelolaan Hutan
            Negara dan Hutan Adat:

                 Berdasarkan hal tersebut di atas, maka diatur hubungan antara HMN dengan
                 hutan negara, dan HMN terhadap hutan adat. Terhadap hutan negara,
                 negara mempunyai wewenang penuh untuk mengatur dan memutuskan
                 persediaan, peruntukan, pemanfaatan, pengurusan serta hubungan-
                 hubungan hukum yang terjadi di wilayah hutan negara. Kewenangan
                 pengelolaan oleh negara di bidang kehutanan seharusnya diberikan kepada
                 kementerian yang bidangnya meliputi urusan kehutanan. Terhadap hutan
                 adat, wewenang negara dibatasi sejauh mana isi wewenang yang tercakup
                 dalam hutan adat. Hutan adat (yang disebut pula hutan marga, hutan
                 pertuanan, atau sebutan lainnya) berada dalam cakupan hak ulayat karena
                 berada dalam satu kesatuan wilayah (ketunggalan wilayah) masyarakat
                 hukum adat, yang peragaannya didasarkan atas leluri (traditio) yang hidup
                 dalam suasana rakyat (inde volksfeer) dan mempunyai suatu badan perurusan
                 pusat yang berwibawa dalam seluruh lingkungan wilayahnya. 46


            5.   Pendirian MK terhadap HMN

                 Berdasarkan hasil kajian atas ketiga putusan MK yang menjadi
            obyek penelitian ini, dapat dirumuskan beberapa pendapat yang sekaligus
            juga mencerminkan pandangan MK dalam pemaknaan HMN. Pendapat
            tersebut antara lain:








                 45 P. Vandergeest dan N.L. Peluso. 1995. “Territorialization and State Power in Thailand”
            Theory & Society 24 (3): 385–426. DOI: 10.1007/BF00993352., dalam Noer Fauzi Rachman dan
            Mia Siscawati, 2014, Masyarakat Hukum Adat Adalah Penyandang Hak, Subjek Hukum, dan Pemilik
            Wilayah Adatnya: Memahami secara Kontekstual Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia
            atas Perkara Nomor 35/PUU-X/2012, INSISTPress, Yogyakarta, Hlm. 11.
                 46 Putusan Mahkamah Konstitusi terhadap Perkara Nomor 35/PUU-X/2012, Hlm. 172-173


            404      Hubungan Keagrariaan
   430   431   432   433   434   435   436   437   438   439   440