Page 561 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 561

dan santunan tanah untuk pembangunan; e) penetapan subjek dan objek
            redistribusi tanah, serta ganti kerugian tanah kelebihan maksimum dan
            tanah absentee; f) penetapan dan penyelesaian masalah tanah hak ulayat;
            g) pemanfaatan dan penyelesaian masalah tanah kosong; h) pemberian
            ijin membuka tanah; dan i) perencanaan dan penggunaan tanah wilayah
            kabupaten/kota.
                 Dalam melaksanakan Keppres di atas, beberapa Pemda telah
            mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) perihal tanah-tanah yang belum
            dikeluarkan haknya, baik yang sudah dimanfaatkan maupun yang belum
            dimanfaatkan. Dari beberapa daerah tersebut, Kota Tarakan adalah salah
            satunya yang mengeluarkan Perda tentang  Surat Ijin Memakai Tanah
            Negara (SIM-TN) dan mengimplementasikannya. Lahirnya Perda itu
            dilatarbelakangi oleh kondisi penguasaan tanah yang dinilai sulit untuk
            dikendalikan, dan peraturan yang ada yaitu UU Pemerintahan Daerah
            dan Keppres 34/2003 juga memberi kewenangan. Kota Tarakan yang
            merupakan penghasil tambang minyak dan daerah bisnis telah berkembang
            cukup pesat, dan menjadi daerah tingkat II terkaya nomor 17 di Indonesia.
            Letak strategis dari kota ini yang diperlengkapi fasilitas bandar udara
            menjadi tempat transit untuk melakukan kegiatan bisnis. Di samping
            suku bangsa asli Tidung yang tinggal, berbagai suku bangsa di Tanah Air
            berdatangan ke kota ini, antara lain Jawa, Bugis, Toraja, Makassar, Banjar,
            dan lain-lain.
                 Dalam perkembangannya, ternyata para penghuni pulau telah
            menguasai tanah-tanah yang kosong penggunaan dan pemanfaatannya.
            Penguasaan tersebut hampir-hampir telah di luar kendali. Penetapan
            kawasan atau area oleh pihak yang berwenang telah banyak yang dilanggar.
            Okupasi hutan lindung atau lereng perbukitan yang rawan longsor telah
            terjadi. Demikian juga kawasan sempadan pantai dan sungai telah ada
            pendudukan. Tata letak bangunan yang tidak teratur dan tanpa sempadan
            bangunan telah membuat wajah kota menjadi kurang serasi. Oleh karena
            itu pada tahun 2001 ketika otonomi daerah bergulir dengan kewenangan
            di bidang pertanahan, Pemko Tarakan mengeluarkan Perda Nomor 19
            Tahun 2001 (Perda 19/2001) untuk menertibkan dan mengendalikan
            masalah tersebut.
                 Dalam mengelola tanah-tanah yang belum mempunyai status hak,
            yang mana statusnya disebut oleh Pemko Tarakan sebagai tanah Negara,




            530      Hubungan Keagrariaan
   556   557   558   559   560   561   562   563   564   565   566