Page 562 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 562

diatur perijinan memakai tanah-tanah dimaksud. Dalam perkembangannya,
             Perda 19/2001 kemudian direvisi dengan Perda 10/2004, dan terakhir pada
             tahun 2014 ini dilakukan revisi kembali. Secara legal-hirarkhis, lahirnya
             Perda tersebut merupakan kewajiban Pemko untuk menindaklanjuti amanat
             Keppres 34/2003. Dalam perkembangan kemudian, Surat Ijin Memakai
             Tanah Negara (SIM-TN) yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang,
             ternyata juga dijadikan ’alas hak’ untuk proses penerbitan sertipikat tanah
             di Kantor Pertanahan.
                   Hingga saat ini telah banyak dikeluarkan SIM-TN kepada masyarakat
             luas. Pemko hanya mengeluarkan batasan bahwa penerbitan SIM-TN
             tersebut harus sesuai dengan peruntukan ruang (Rencana Tata Ruang
             Wilayah = RTRW) Kota Tarakan. Sementara itu pihak Pertamina dan
             militer yang mempunyai penguasaan tanah yang luas telah mulai terimbas
             atas kebijakan SIM-TN itu. Permasalahan pertanahan baru pun mulai
             mengemuka dengan terbitnya SIM-TN, sehingga fenomena ini perlu dikaji
             proses dan implikasinya, terlebih SIM-TN tersebut juga dijadikan ’alas hak’
             dalam pendaftaran tanah.


             2.    Permasalahan

                   SIM-TN merupakan buah kebijakan yang sangat mulia dari Pemko
             Tarakan untuk mengendalikan dan menertibkan penguasaan tanah yang
             telah dilakukan oleh warga masyarakat. Perkembanguan penguasaan
             tanah saat itu dinilai telah mulai menampakkan ketidaktertiban dan
             mengancam kelestarian lingkungan hidup. Banyak penguasaan tanah yang
             bisa dikatakan menyimpang dari peruntukan tanah sebagaimana tata ruang
             yang telah disusun.
                   Dalam implementasinya, ternyata terdapat beberapa masalah
             dalam proses penerbitan SIM-TN itu, sehingga dokumen SIM-TN yang
             berlaku juga sebagai ’alas hak’ dalam pendaftaran tanah menjadi kurang
             berkepastian hukum. Memperhatikan gejala tersebut, terbitnya SIM-TN
             di Kota Tarakan perlu dikaji secara legal-administratif dan ditinjau dari
             sudut pandang keruangan, sehingga dapat diajukan pertanyaan penelitian
             sebagai berikut:








                    Permasalahan Surat Ijin Memakai Tanah Negara Sebagai ‘Alas Hak‘...  531
   557   558   559   560   561   562   563   564   565   566   567