Page 565 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 565

tentang Pemerintahan Daerah. Dalam Pasal 11 ayat (4) UU 32/2004
            ditegaskan bahwa penyelenggaraan urusan pemerintahan yang bersifat
            wajib yang berpedoman pada standar pelayanan minimal dilaksanakan
            secara bertahap dan ditetapkan oleh Pemerintah. Dalam hal ini, pelayanan
            pertanahan merupakan salah satu dari urusan wajib yang menjadi
            kewenangan Daerah.
                 Lebih lanjut, hal yang perlu diindahkan adalah ketentuan Pasal
            12 ayat (11) dan (12) UU 32/2004 yang menegaskan bahwa urusan
            pertanahan yang diserahkan kepada daerah disertai sumber pendanaan,
            pengalihan sarana prasarana, serta kepegawaian sesuai dengan urusan
            yang didesentralisasikan. Sementara untuk urusan pemerintahan yang
            dilimpahkan kepada Gubernur, disertai dengan pendanaan sesuai urusan
            yang didekonsentrasikan. Kewenangan ini dilaksanakan oleh instansi vertikal
            di daerah, yaitu perangkat departemen dan/atau lembaga pemerintah non
            departemen yang mengurus urusan pemerintahan yang tidak diserahkan
            kepada daerah dalam wilayah tertentu dalam rangka dekonsentrasi.
                 Rambu-rambu dalam pelaksanaan otonomi daerah yang harus selalu
            dipatuhi adalah ketentuan Pasal 237 yang menegaskan bahwa semua
            ketentuan peraturan perundang-undangan yang berkaitan langsung dengan
            daerah otonomi wajib mendasarkan dan menyesuaikan pengaturannya
            pada UU. Lebih lanjut, dalam penjelasan pasal yang bersangkutan
            diberikan penafsiran yang otentik, bahwa peraturan perundang-undangan
            yang dimaksud adalah peraturan perundang-undangan yang bersifat
            sektoral, yaitu seperti UU Kehutanan, UU Pengairan, UU Perikanan, UU
            Pertanahan, UU Kesehatan, UU Pertanian, dan UU Perkebunan.



            2.   Tanah Negara
                 UUPA berpangkal pada Pasal 33 ayat (3) Undang-undang Dasar 1945
            yang berbunyi: ”Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya
            dikuasai oleh Negara, dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran
            rakyat”. Sesuai dengan pernyataan itu, maka kata ’dikuasai’ dalam Pasal 2
            ayat (2) UUPA bukan berarti ’dimiliki’, akan tetapi pengertian tersebut
            memberi wewenang kepada Negara sebagai organisasi kekuasaan tertinggi
            daripada Bangsa Indonesia untuk:







            534      Hubungan Keagrariaan
   560   561   562   563   564   565   566   567   568   569   570