Page 568 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 568

aspek keperdataan pada seseorang. Penguasaan fisik atas tanah dilindungi
             oleh hukum sepanjang penguasaan tersebut mempunyai itikhad baik,
             sedangkan penguasaan yuridis merupakan kelengkapan administrasi dari
             penguasaan fisik itu sendiri. Dengan demikian, penguasaan seseorang atas
             tanah harus dilandasi dengan penguasaan fisik dan yuridis. Ada kalanya
             penguasaan fisik atas sebidang tanah terselenggara secara tidak langsung,
             misalnya seseorang memiliki tanah pertanian/pekarangan yang secara fisik
             dikuasai oleh pihak lain dalam bentuk perjanjian sewa-menyewa yang diakui
             secara hukum. Dengan demikian secara fisik tanah tersebut dikuasai oleh
             pihak lain, tetapi secara yuridis tanah tersebut dimiliki oleh seseorang yang
             mempunyai dokumen kepemilikan.
                   Sebuah fakta yang hingga saat ini kita hadapi bahwa mayoritas bidang
             tanah belum terdaftar, dan sebuah fakta pula bahwa masih sering didapati
             surat-surat tanah di tengah-tengah masyarakat yang dibuat pada masa lalu
             oleh penguasa/pejabat daerah, seperti Camat dan Kepala Desa, atau pun
             oleh Notaris (Parlindungan, 1999). Surat-surat tersebut beragam untuk
             sekedar menciptakan bukti tertulis dari tanah-tanah yang mereka kuasai,
             tanpa melalui prosedur pendaftaran tanah yang berlaku. Tanah-tanah
             tersebut ada yang belum dikonversi, ada pula tanah-tanah yang dikuasai
             oleh Negara dan kemudian diduduki oleh rakyat tanpa pengaturan, atau
             pun diatur oleh para Kepala Desa dan disahkan oleh para Camat. Seolah-
             olah tanah tersebut telah merupakan hak seseorang atau pun termasuk
             kategori hak-hak adat. Parlindungan (1999) menyatakan bahwa setelah
             berlaku UUPA dan khususnya PP 10/61 maka telah terjadi status quo,
             artinya tidak mungkin lagi diterbitkan surat-surat keterangan tentang
             hak-hak seseorang kecuali menerangkan bahwa tanah tertentu memang
             hak-hak adat. Tanah-tanah yang belum terdaftar atau mengalami kesulitan
             untuk didaftarkan inilah yang pada umumnya merupakan penyebab utama
             timbulnya sengketa/masalah pertanahan.
                   Biasanya hal itu terjadi sejalan dengan perkembangan wilayah, bahwa
             tanah berkembang menjadi sumberdaya yang semakin strategis karena
             jumlahnya yang terbatas dan semakin beragamnya konflik kepentingan
             yang berkaitan dengan tanah. Hal berikutnya yang kemungkinan
             muncul adalah spekulan-spekulan tanah yang mempermainkan tanah
             semata-mata sebagai barang komoditi. Tidak dapat dielakkan ketika
             sebuah wilayah akan dikembangkan ekonominya, para spekulan ini akan
             mencoba peruntungan dengan membeli tanah-tanah berprospek ekonomis


                    Permasalahan Surat Ijin Memakai Tanah Negara Sebagai ‘Alas Hak‘...  537
   563   564   565   566   567   568   569   570   571   572   573