Page 571 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 571

menjadi tolok ukur keberhasilan negara-negara dunia dalam mengukur
            pengembangan pelaksanaan kadasternya. Indonesia yang merupakan salah
            satu anggota FIG sudah sepatutnya menggunakan benchmark Kadaster 2014
            ini untuk  menilai posisi pengembangan sistem kadasternya.
                 Visi Kadaster 2014 dibangun berdasar beberapa sistem kadaster
            tradisional yang telah dikenal selama ini, berbagai studi, dan implementasi
            program/proyek, serta analisis kecenderungan pembangunan kadaster
            di masa depan. Kadaster sendiri didefinisikan sebagai sebuah metode
            pencatatan data publik yang berkaitan dengan semua objek tanah hak dalam
            sebuah wilayah administrasi yang berbasis pada survei dan pengukuran
            batas-batas bidang tanah, dan didefinisikan dalam salah satu hukum privat
            atau publik.
                 Kadaster 2014 menyampaikan 6 (enam) pernyataan tentang visi
            kadaster dunia yang diharapkan akan terwujud pada tahun 2014, sebagai
            berikut:  1

            Statement 1: Cadastre 2014 will show the complete legal situation of land,
            including public rights and restrictions! (Kadaster 2014 akan menyajikan
            informasi yang lengkap meliputi segala aspek hukum suatu bidang tanah,
            termasuk hak-hak publik dan pembatasan-pembatasannya)

                 Kadaster 2014 meliputi pencatatan oleh Kantor mengenai hak atas
            objek tanah-tanah hukum yang dapat memberikan jawaban mengenai
            beberapa pertanyaan tentang: di mana, kapan, berapa banyak, siapa,
            dan bagaimana mengenai objek-objek tanah hukum tersebut. Dalam hal
            ini, Kadaster 2014 akan memperlihatkan kondisi hukum objek tanah,
            termasuk hak-hak publik dan pembatasannya. Sistem kadaster ini akan
            mempunyai cakupan yang lebih luas daripada sistem kadaster tradisional
            karena sumberdaya tanah telah mengalami perubahan yang sangat berarti.
                 Hukum adat dan tradisional telah mengacu pada tanah dan hak
            penggunaan serta pembatasannya, sebelum berkembang menjadi sistem
            hukum formal. Konstitusi di banyak negara menjamin setiap warga negara
            berhak atas properti miliknya. Undang-undang sipil juga melindungi hak
            warga negara terhadap pengambilalihan propertinya. Memang selama
            ini kadaster tradisional telah memberi perlindungan hukum hingga


                 1 Jurg Kaufmann – Daniel Steudler, A Vision for a Future Cadastral System, Working Group
            1 of FIG Commision 7, 1994


            540      Hubungan Keagrariaan
   566   567   568   569   570   571   572   573   574   575   576