Page 647 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 647

sebagai lembaga induk STPN, menjadikan pengembangan keilmuan di
            STPN menjadi tidak leluasa. Di satu sisi STPN harus merancangbangun
            rumpun ilmu pertanahan, tetapi disisi lain, STPN harus mengajarkan ilmu
            dan pengetahuan praktis yang dibutuhkan oleh BPN.



            B.   Permasalahan

                 Permasalahan lain terkait dengan pengembangan keilmuan
            pertanahan dan keagrariaan adalah masih kentalnya pengakuan terhadap
            linearitas keilmuan oleh birokrasi pendidikan di Indonesia, sehingga studi
            multidisiplin masih belum mendapatkan tempat yang layak dalam konstelasi
            perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia (Irianto, 2014). Padahal
            karakteristik keilmuan pertanahan dan keagrariaan adalah multidisiplin.
                 Berkenaan dengan hal di atas, maka pencermatan terhadap rumpun
            keilmuan pertanahan dan keagrariaan secara mendasar merupakan sebuah
            kebutuhan yang harus dilakukan. Hal ini penting, agar karakteristik ilmu
            dan kajian pertanahan dan keagrariaan dapat terformulasikan, baik dalam
            pendekatan maupun metodologinya.



            C.   Tujuan Penelitian

            1.   Melacak dinamika perkembangan ilmu dan pendidikan tinggi agraria
                 di Indonesia;
            2.   Mengelaborasi relasi agraria–pertanahan dari perspektif ilmu agraria;
            3.   Merumuskan state of the art ilmu agraria

























            616      Ilmu Agraria
   642   643   644   645   646   647   648   649   650   651   652