Page 34 - Reforma Agraria (Penyelesaian Mandat Konstitusi)
P. 34

M. Nazir Salim & Westi Utami

            hutan) masih jauh dari harapan. Sementara Perhutanan Sosial sampai
            Januari 2019 sudah berhasil mendistribusikan lahan kawasan hutan
            sekitar 2,5 Juta hektar dari target yang ditetapkan (Hadi, 2019). Sementara
            update terkahir sampai dengan akhir Agustus 2019, capaiannya sudah
            diangka 3.29 juta hektar.

                Data kinerja Kementerian ATR/BPN menunjukkan bahwa untuk
            program redistribusi tanah pada tanah-tanah Hak Guna Usaha (HGU)
            yang habis masa berlakunya, tanah terlantar dan tanah negara lainnya
            sampai awal tahun 2019 sudah mencapai ± 411.573 hektar (102,9%). Semen-
            tara untuk legalisasi aset dari tanah transmigrasi masih jauh dari target
            yang diharapkan, capaiannya baru 47.176 hektar (7,86%).
                Sementara Tanah Objek Reforma Agraria (TORA) dari kawasan
            hutan yang ditargetkan seluas 4.5 juta hektar sampai awal 2019 belum
            bisa direalisasikan, baru sampai pada tahap pelepasan/pencadangan,
            belum dilakukan distribusi kepada subjek penerima. Data resmi yang
            dikeluarkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK),
                                                 4
            dari tahun 2015-2019 sudah “melepaskan”  tanah kawasan hutan untuk
            Objek RA seluas 1.001.454 hektar, namun lahan itu belum dilakukan
            verifikasi lapangan baik dari Kementerian ATR/BPN dan pemda setempat
            maupun KLHK (Dirjen Penataan Agraria 2019, 16). Objek TORA ini
            seharusnya menjadi kewenangan GTRA untuk menanganinya.
                Dari studi yang dilakukan Tim Landreform ATR/BPN melalui data
            spasial, lahan yang sudah dilepaskan tersebut terbagi dalam 3 kategori:
            pertama, yang dianggap layak untuk diredistribusikan; kedua, lahan-




                4  Definisi “melepaskan” untuk kawasan hutan sebagaimana diatur dalam
            Permen LHK  No. 17/MENLHK/SETJEN/KUM.1/5/2018 tentang  Tata  Cara
            Pelepasan Kawasan Hutan dan Perubahan Batas Kawasan Hutan untuk Sumber
            Tanah Obyek Reforma Agraria bukan berarti lahan hutan langsung dilepaskan
            untuk APL bagi pemda, namun ada tahapan pencadangan terlebih dahulu. Setelah
            dicadangkan kemudian pemda setempat mengusulkan untuk penggunaan dan
            pemanfaatannya termasuk subjek-subjek penerimanya kalau akan dijadikan objek
            redis. Jika tidak diusulkan maka status tanah tersebut masih “pencadangan” dan
            akan kembali berstatus sebagai kawasan hutan jika pemda tidak mengusulkan
            alokasi penggunaannya.

              6
   29   30   31   32   33   34   35   36   37   38   39