Page 291 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 291

Ahmad Nashih Luthfi


               revisi. Pada “detik-detik terakhir” inilah ia sering berkonsultasi
               dengan Ben White. 85  Menyimak tesisnya yang berjudul ““Rural
               Development and Rural Institution: A Study of Institutional
               Change in Java” memang akan ditemukan satu kesan bahwa as-
               pek land tenure dibiarkan dengan bahasa yang mengambang, tidak
               demikian jelas.
                   Gunawan Wiradi diwisuda pada bulan Juli 1978. Dengan
               itu ia resmi mendapat gelar Master of Social Science dari
               Universiti Malaysia. Meski demikian, ia sendiri merasa tidak
               puas dengan tesisnya, dan semakin sadar demikian pentingnya
               aspek land tenure. Ia merasa bahwa isu itu adalah hutang bagi-
               nya, dan akan menekuninya lebih serius setiba di Indonesia.

                3. Mendobrak kebekuan isu agraria

                   Upaya mendobrak kebekuan isu Reforma Agraria atau
               landreform pasca 1965 sebenarnya telah dirintis secara tidak lang-
               sung oleh Prof. Dr. Sajogyo dalam tulisan pengantarnya untuk
               buku Masri Singarimbun dan David H. Penny, Penduduk dan
               Kemiskinan: Kasus Sriharjo (1976). Bukan dengan cara mere-
               distribusi tanah kelebihan maksimal atau tanah-tanah terlantar,
               namun idenya adalah landreform itu dikenakan pada petani gu-
               rem. Mereka yang menguasai tanah kurang dari 0,2 hektar dibeli
               tanahnya oleh pemerintah dengan harga tertentu, kemudian
               tanah ini dititipkan oleh negara dan diserahkan pengelolaannya
               kepada Badan Usaha Buruh Tani (BUBT).
                   “Komunalisasi” atas tanah itu bukan berangkat dari pemiki-
               ran bahwa small holder farm itu tidak efisien (anti Chayanovian),
               melainkan ingin menempatkan petani pada posisi “pengusaha”,
               dan tidak melulu dianggap sebagai buruh. Gagasannya selanjutnya
               adalah menjadikan BUBT sebagai badan usaha bersama (dengan
               anggota para petani yang tanahnya dibeli tadi), sebagai penyalur
               kredit dan modal usaha, serta pemborong pekerjaan proyek padat





                   85  Wawancara dengan Gunawan Wiradi, Bogor, 25 April 2008.
               238
   286   287   288   289   290   291   292   293   294   295   296