Page 294 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 294

Melacak Sejarah Pemikiran Agraria


                   “Walaupun laporan tersebut oleh Menteri Pertanian Prof. Dr.
                   Soedarsono Hadisapoetro dimanfaatkan sebagai salah satu sumber
                   informasi sewaktu memimpin delegasi Indonesia menghadiri World
                   Conference  on  Agrarian  Reform  and  Rural  Development
                   (WCARRD) yang diselenggarakan oleh FAO di Roma, Italia, pada
                   hemat penulis pelaksanaan Reforma Agraria tak kunjung dilak-
                   sanakan di Indonesia. Bahkan pemerintah Orde Baru sebenarnya
                   tidak ada niat untuk memberi landasan kuat bagi pembangunan
                   nasional menuju ke arah industrialisasi dengan membenahi struk-
                   tur agraria terlebih dahulu yang timpang sejak zaman penjajahan
                   Belanda”. 92
                   Meski saran-saran dalam laporan tersebut tidak dijalankan,
               namun setidaknya ia mempunyai dua arti: Pertama, landreform
               tidak lagi identik dengan agenda komunis, secara implisit dinya-
               takan dalam TAP-MPR No. IV/1978. Kedua, ilmuwan-ilmuwan
               sosial yang sebelumnya “tiarap” mulai berani muncul berbicara
               tentang Reforma Agraria. 93
                   Setahun berikutnya, Juli 1979, diselenggarakan Konferensi
               Internasional FAO yang membahas tentang pembangunan pede-
               saan dan pembaruan agraria. 94  Dari 145 negara, terdapat 6 nega-
               ra yang mengirim delegasi besar, termasuk dari Indonesia dengan
               jumlah utusan lebih dari 40 orang. Di antaranya adalah Profesor
               Sajogyo, Dr. Sediono MP. Tjondronegoro, Dr. Rudolf Sinaga
               (IPB), Profesor Sukadji R (UGM), dan lain-lain. Gunawan
               Wiradi tidak turut dalam kongres ini.
                   Konferensi menghasilkan rumusan “Peasant Charter”. Di
               dalamnya berisi tentang Deklarasi Prinsip dan Program Aksi. Di
               antaranya adalah bagaimana orang miskin di desa harus diberi
               ruang gerak untuk menjangkau tanah dan sumber-sumber air,
               input dan jasa di bidang pertanian, fasilitas-fasilitas yang tersedia
               di bidang penyuluhan dan penelitian; diperbolehkannya mereka



                   92  Sediono M.P. Tjondronegoro, Otobiografi Sediono M.P. Tjondronegoro:
               Mencari Ilmu di Tiga Zaman Tiga Benua (Bogor: Sains Press, 2008), hal. 48.
                   93  Wawancara dengan Gunawan Wiradi, 28 April 2008; bdk. Gunawan
               Wiradi, 2009, op.cit, hal. 103.
                   94  Isi keputusan konferensi tersebut telah dilaporkan oleh Sajogyo,
               “Keputusan Konperensi Sedunia Perihal Perobahan Agraria dan Pembangunan
               Pedesaan”, Jurnal Agro Ekonomika, No. 11, Tahun X, Oktober 1979, hal. 108-120.
                                                                        241
   289   290   291   292   293   294   295   296   297   298   299