Page 295 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 295

Ahmad Nashih Luthfi


               turut merancang, melaksanakan, serta menilai program pemba-
               ngunan desa, dan yang penting lagi adalah; struktur dan pola per-
               dagangan internasional serta investasi asing harus disesuaikan
               dengan pelaksanaan strategi pembangunan pedesaan yang bertu-
               juan menghilangkan kemiskinan. 95
                   Sepulang dari Roma, sebagian delegasi dari Indonesia pergi
               ke Belanda membahas hasil pertemuan FAO tersebut. Dari perte-
               muan di Belanda itu lahir kesepakatan perlunya studi banding
               pelaksanaan Reforma Agraria di negara lain. Setiba di Indonesia,
               gagasan itu bersambut dengan Survey Agro Ekonomi (SAE).
               Segeralah dibuat persiapan untuk mendiskusikan hasil Konferen-
               si Roma dan ide tentang studi banding tersebut. Berbagai pakar
               dari kampus dan lembaga pemerintah diundang dalam persiapan-
               nya.
                   Demikianlah, Kongres Internasional FAO 1979 merupakan
               angin segar bagi mengemukanya wacana Reforma Agraria di
               Indonesia. Terlebih delegasi Indonesia yang dipimpin langsung
               oleh Menteri Pertanian, Prof. Dr. Soedarsono Hadisapoetro,
               menegaskan bahwa Indonesia harus meneruskan program Refor-
               ma Agraria dan UUPA 1960 yang masih berlaku di Indonesia.
                   Maka tidak aneh jika jurnal terkemuka Prisma edisi Septem-
               ber 1979 mengangkat isu Reforma Agraria di bawah taajuk
               “Mencari Hak Rakyat atas Tanah”. Dalam edisi ini, Gunawan
               Wiradi bersama Benjamin White menyumbang tulisan berjudul
               “Pola-pola Penguasaan Tanah di DAS Cimanuk Dahulu dan
               Sekarang: Beberapa Catatan Sementara”. Sejak saat itu, wacana
               tentang Reforma Agraria semakin menemukan celahnya untuk


                   95  Piagam Kaum Tani, Deklarasi Mengenai Prinsip-Prinsip dan Program Aksi,
               Konferensi Dunia Mengenai Pembaruan Agraria dan Pembangunan Pedesaan (Jakarta:
               Bina Desa, 1983). Menyimak prinsip-prinsip itu, substansinya telah menyentuh
               dimensi yang luas baik dalam perpektif pembangunan pedesaan secara internal
               dan bagaimana memberi jaminan baik aset (tanah) maupun aksesnya (pasca
               penguasaan tanah) kepada kaum miskin pedesaan, maupun dimensi keluarnya
               dengan mengingat bahaya kekuatan neo-liberal/pasar. Suatu prinsip yang masih
               dianut oleh gerakan sosial (agraria) saat ini bahkan tidak jauh berbeda dengan
               desain Reforma Agraria versi pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, Program
               Pembaharuan Agraria Nasional (PPAN), yang dirumuskan dengan Reforma Agraria
               = Land Reform + Access Reform (RA=LR+AR).
               242
   290   291   292   293   294   295   296   297   298   299   300