Page 311 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 311
Ahmad Nashih Luthfi
zation without Development in Rural Java”. Naskah ini memberi lan-
dasan perspektif penelitian-penelitian SAE.
Dampak sosial dan ekonomi pedesaan akibat pelaksanaan
Revolusi Hijau semakin intens dikaji melalui pendirian Studi
Dinamika Pedesaan pada tahun 1973. Studi ini mengkaji tiga
tema besar: pendapatan, kesempatan kerja, dan kelembagaan
desa. Pada periode ini metode penelitian mengalami perkem-
bangan dengan digunakannya metode etnografi, sejarah desa,
dan metodologi kualitatif lainnya. Metode survei merupakan sia-
sat di awal periode SAE sebab minimnya dana. Perkembangan
selanjutnya ke arah metode-metode kualitatif tidak terlepas dari
keberadaan Sajogyo sebagai ahli sosiologi yang etnografis dalam
pengalaman riset disertasinya, dan Benjamin White ketika
menjadi konsultan SAE/SDP.
Suara kritis mulai bermunculan pada pertengahan tahun
1970-an. Peristiwa Malari menandai hal ini. Demikian juga kritik
terhadap pembangunan pedesaan yang telah berjalan melalui
pelaksanaan revolusi Hijau. Pemerintah berupaya menilik
kembali kebijakan pertanahannya. Dalam kaitan ini, Sajogyo
menghadiri WCARRD-FAO di Roma tahun 1979. Hasil perte-
muan internasional tersebut menandaskan pentingnya pelaksa-
naan reforma agraria dan kewaspadaan atas struktur global. Upa-
ya pembacaan atas kondisi internal dalam perspektif perbandi-
ngan serta konteks globalnya dilanjutkan melalui studi kompara-
tif tentang landreform di beberapa negara. Gunawan Wiradi bertu-
gas ke Punjab dan Bengal Barat (1980-1981). Hasil kajian itu
dilokakaryakan pada “International Policy Workshop on Agrarian
Reform in Comparative Perspectives” (1981). Pada masa inilah, stu-
di agraria melalui peran para tokoh Mazhab Bogor memasuki
episode kebangkitan.
Pendirian Pusat Studi Pembangunan pada tahun 1972
menandai perkembangan penting dalam disiplin ilmu sosial,
khusunya di IPB. Melalui lembaga ini ideologi modernisme dikri-
258

