Page 312 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 312

Melacak Sejarah Pemikiran Agraria


               tisi dengan sudut pandang emic, yaitu berupaya menghadirkan su-
               ara dan kepentingan tineliti, serta didekatinya persoalan sosial
               ekonomi secara interdisipliner.
                   Sajogyo ditugaskan melakukan evaluasi program pemenuhan
               nutrisi (ANP Evaluation Study) yang dilanjutkan dalam UPGK.
               Penugasan ini terkait pergeseran strategi global pembangunan
               dari pemenuhan peningkatan kebutuhan pangan ke pemenuhan
               kebutuhan dasar (basic need). Kegiatan ini memungkinkannya me-
               lakukan pengorganisasian masyarakat (kader perempuan). Hasil
               riset evaluasi dan pengorganisasian ini direfleksikan Sajogyo
               dalam bentuk pembuatan standar ukur kemiskinan dan kerawa-
               nan pangan masyarakat. Sajogyo kemudian melahirkan konsep
               Garis Kemiskinan pada tahun 1978 yang didasarkan atas tingkat
               konsumsi setara beras bagi masyarakat kota dan desa.
                   Gagasan BUBT Sajogyo tahun 1976 berupaya memecahkan
               kesunyian wacana land reform. Ide komunalisasi sistem pengua-
               saan tanah ini sayangnya tidak bersambut sama sekali, baik di
               tingkatan gagasan (akademis) maupun wacana (kebijakan).
                   Memasuki Pelita III, masih dengan perhatian pada pemenu-
               han kebutuhan dasar, pembangunan nasional diarahkan pada
               upaya pemerataan 8 kebutuhan dan kesempatan, atau yang dise-
               but dengan “8 jalur pemerataan”. Delapan komponen ini dalam
               perspektif kebijakan adalah jukstaposisi kebutuhan atau hubu-
               ngan asosiatif. Sementara Sajogyo melihatnya sebagai relasi se-
               bab akibat antar satu komponen dengan lainnya. Menurutnya,
               “kesempatan kerja” dan “kesempatan berusaha” adalah “jalur
               utama pembuka peluang” bagi kesempatan-kesempatan lainnya.
               Dua komponen ini adalah sebab (syarat) bagi keenam komponen
               lainnya. Demikianlah alur logika yang diajukan oleh Sajogyo,
               yang kemudian dikenal dengan “8 jalur pemerataan plus” (1984).
                   Swasembada pangan disusul dengan booming minyak yang
               dicapai pada tahun 1983/1984 memberi kepercayaan diri bagi
               Indonesia melakukan percepatan industrialisasi. Sebagian keun-
               tungan dari sektor minyak dialihkan ke sektor lainnya. Sektor

                                                                        259
   307   308   309   310   311   312   313   314   315   316   317