Page 313 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 313

Ahmad Nashih Luthfi


               perkebunan dan kehutanan ditekan percepatan produksinya. Di-
               rancanglah skema Perusahaan Inti Rakyat (PIR) dan perluasan
               areal hutan (HPH-lahan gambut). Industrialisasi pedesaan diran-
               cang melalui skema perluasan kerja sektor non-pertanian.
                   Riset PSP-IPB melihat bahwa proyek PIR rentan terhadap
               eksploitasi terhadap “mitra kerja” perusahaan, yakni rakyat. Le-
               mahnya posisi mereka menempatkan kedudukan “inti” ada pada
               perusahaan. PIR yang dapat disebut sebagai market-led landreform
               justru mengandung potensi konflik. Selain itu, peluang kerja luar
               pertanian menurut temuan tim PukLuTan yang melibatkan kepe-
               mimpinan Sajogyo dari PSP-IPB, terkait dengan tingkat pengua-
               saan atas aset produksi masyarakat desa di sektor pertanian me-
               reka.
                   Pada tahun 1980-an dan awal 1990-an, taraf industrialisasi
               ditandai dengan upaya deregulasi dan debirokratisasi ekonomi di
               level makro. Sentralisme ekonomi Orde Baru dikendorkan bah-
               kan didobrak oleh kalangan swasta dalam negeri dan asing. Di
               level sosial politik, pemerintah sedang memperluas basisnya dari
               yang semula mengandalkan dukungan elit tertentu ke basis
               massa yang lebih luas. Program Inpres Desa Tertinggal (IDT) dan
               Program Penanggulangan Kemiskinan (PPK) pada tahun 1990-
               an menjadi pilihan atas strategi itu.
                   Dalam konteks itulah Gunawan Wiradi agaknya geram
               akibat tidak dijalankannya reforma agraria. Padahal konflik ber-
               basis agraria atau konflik akibat pelaksanaan pembangunan mela-
               lui skema-skema yang telah disebut di atas justru semakin me-
               ningkat. Dalam suatu kesempatan di tahun 1995, ia menyerukan
               perlunya pelaksanaan landreform atas inisiatif rakyat (landreform by
               leverage).
                   Di lain pihak, Sajogyo melakukan evaluasi program IDT dan

               PPK melalui Kaji Tindak (Jitin) dan Kaji Bersama (Jisam). Kaji-
               an di kawasan Indonesia Timur ini menghasilkan temuan-temu-
               an kritis, di antaranya adalah gugatan terhadap profesionalisme

               260
   308   309   310   311   312   313   314   315   316   317   318