Page 336 - Perjuangan Landreform Masyarakat Perkebunan: Partisipasi Politik, Klaim dan Konflik Agraria
P. 336

Perjuangan Landreform Masyarakat Perkebunan  321


              menjalankannya. Begitu juga dengan pengalaman sejarah Indonesia
              menunjukkan kegagalan pelaksanaan reforma agraria di Indonesia
              akibat  dari lemahnya  institusi pelaksana, sehingga  dengan  mudah
              program yang populis ini dihambat oleh kekuatan modal.
                  Untuk langkah yang ketiga adalah perlunya membuka kembali
              ruang bagi partisipasi masyarakat  perkebunan  dalam  pengelolaan

              sumber-sumber agraria   wilayah perk  Masyar


              mendapatkan   kepastian  hukum  hak  atas  garapan  pada  lahan-
              lahan perkebunan, kemudian mengurus proses produksi dari masa
              tanam  hingga  masa  panen, sekaligus  memberi peluang untuk
              mengelolanya dalam bentuk koperasi seperti yang pernah menjadi
              usulan  masyarakat  perkebunan  pada  tahun  1950-an. Sementara
              Badan Usaha Milik Negara urusannya menangani pasar-pasar yang
              lebih  luas. Ini merupakan  konsepsi tata  guna  tanah  yang saat  ini,
              pemerintah lebih melayani dan memfasilitasi pemodal.
                  Pada akhirnya untuk langkah keempat membuka satu institusi

              payung yang mampu melakukan konsolidasi dan koordinasi dengan
              institusi lain yang menguasi sumber-sumber agraria lainnya seperti
              perkebunan, kehutanan, dan tambang. Agraria bukan semata-mata
              masalah administrasi tanah masyarakat yang pengaturannya hanya
              di bawah suatu badan di pemerintahan seperti selama ini terjadi.
   331   332   333   334   335   336   337   338   339   340   341