Page 10 - zein otw ebook
P. 10
2. Pemberontakan DI/TII
Pemberontakan DI/TII bermula dari adanya pemberontakan yang dipelopori oleh
S.M. Kartosuwiryo yang kemudian meluas hampir ke seluruh wilayah Indonesia.
Penyebab pemberontakan ini sebenarnya adalah adanya pernjajian Renville yang
memberikan peluang untuk mendirikan Negara Islam.
Salah satu keputusan Renville adalah harus pindahnya pasukan RI dari daerah-
daerah yang diklaim dan diduduki Belanda ke daerah yang dikuasai RI. Di Jawa
Barat, Divisi Siliwangi sebagai pasukan resmi RI pun dipindahkan ke Jawa Tengah
karena Jawa Barat dijadikan negara bagian Pasundan oleh Belanda. Akan tetapi
laskar bersenjata Hizbullah dan Sabilillah yang telah berada di bawah pengaruh
Kartosuwiryo tidak bersedia pindah dan malah membentuk Tentara Islam Indonesia
(TII). Vakum (kosong)-nya kekuasaan RI di Jawa Barat segera dimanfaatkan
Kartosuwiryo. Meski awalnya ia memimpin perjuangan melawan Belanda dalam
rangka menunjang perjuangan RI, namun akhirnya perjuangan tersebut beralih
menjadi perjuangan untuk merealisasikan cita-citanya. Ia lalu menyatakan
pembentukan Darul Islam (negara Islam/DI) dengan dukungan TII, di Jawa Barat
pada Agustus 1948.
Persoalan timbul ketika pasukan Siliwangi kembali balik ke Jawa Barat.
Kartosuwiryo tidak mau mengakui tentara RI tersebut kecuali mereka mau
bergabung dengan DI/TII. Ini sama saja Kartosuwiryo dengan DI/TII nya tidak mau
mengakui pemerintah RI di Jawa Barat. Maka pemerintahpun bersikap tegas. Meski
upaya menanggulangi DI/TII Jawa Barat pada awalnya terlihat belum dilakukan
secara terarah, namun sejak tahun 1959, pemerintah mulai melakukan operasi militer,
yakni operasi Baratayuda dengan siasat Pagar Betis.
Gerakan DI/TII di Jawa Tengah baik yang meletus di daerah Tegal-Brebes
Pekalongan yang dipimpin oleh Amir Fatah, maupun yang meletus di Kebumen yang
dipimpin oleh Kyai Mahfudz Abdur Rahman atau Kyai Somo Langu yang mendapat
dukungan dari anggota batalyon 426 di Kudus dan Magelang. Menghadapi aksi
DI/TII di Jawa Tengah, pemerintah membentuk operasi pusat yang disebut Gerakan
Banteng Negara yang diantaranya adalah operasi Merdeka Timur yang
menghancurkan Gerakan DI/TII di wilayah Jawa Tengah bagian selatan-Tengah.
Gerakan DI/TII di Aceh, gerakan ini dipimpin oleh Tengku Daud Beureuh,
mantan Gubernur militer DI Aceh dan Ketua PUSA. Issu sentral yang menjadi
penyebabnya adalah masalah otonomi daerah dan perimbangan pusat dengan daerah.
Sedangkan pemicunya adalah diturunkannya status Aceh dari Daerah Istimewa
(setingkat propinsi) menjadi Karisidenan di bawah propinsi Sumatera Utara.
Pemberontakan yang berlangsung sejak th. 1953 dapat diakhiri th. 1962 melalui
Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh yang salah satunya adalah pemberian amnesti
pada Daud Beureuh.
Gerakan DI/TII di Kalimantan Selatan yang dipimpin oleh Ibnu Hajar.
Penyebabnya adalah menyangkut rasionalisasi/demobilisasi tentara oleh Pemerintah
di seluruh Indonesia. Ibnu Hajar alias Haderi bin Umar alias Angli adalah seorang
6

