Page 401 - Merawat NKRI Ala Kyai Muda.cdr
P. 401
MERAWAT NKRI ALA KYAI MUDA | Tokoh-tokoh Inspiratif dari Pesantren
siapa datang maka mati). tidak ada alasan untuk berbuat sesuatu
kecuali taqarub, belajar dan mengaji.
Tarim terkenal dengan sebutan ‘Kota para Wali’, di situlah Reza
melanjutkan pendidikan dan duduk di bangku kuliah disebuah
perguruan tinggi yang bernama al-Ahqaff University. Di kota
Tarim ini juga, Reza menghabiskan waktunya selama empat ta-
hun hingga menyelesaikan tingkat S1.
Selain belajar di bangku kuliah, Reza juga mengikuti pengaji-
an-pengajian yang digelar di ribath-ribath (pesantren-pesantren).
Seperti Ribath Tarim yang pada masa itu dalam asuhan al Habib
Hasan bin Abdullah as Syathiry dan al Habib Salim bin Abdullah
as Syathiry. Ribath Darul Musthofa, asuhan al Habib Umar bin
Hafidz bin Syeikh Abu Bakar dan beberapa pengajian-pengajian
yang digelar oleh para babaib dan masyayikh di masjid-masjid.
Seperti pengajian silsilah kitab al imam Abdullah bin ‘Alawy al
Haddad bersama dengan al Habib Husein Balfaqiih.
Reza merasakan hal yang berbeda ketika belajar di Tarim-Hadra-
maut. Nuansa pengajian lebih kental, sistem pembelajaran ala
pesantren lebih terasa di sini. Di kampusnya, materi kuliah tidak
hanya sekedar dibahas atau didiskusikan, melainkan harus dih-
afal seperti menghafal kitab atau nadzom di pondok pesantren.
Dia mengingat apa yang disampaikan oleh ayahnya, Kyai Imam
Yahya Mahrus, bahwa mondok di luar daerah atau luar negeri
tidak hanya sekedar menambah ilmu, tetapi juga menambah
wawasan dan pengalaman. Hal yang paling dirasakan adalah
pengalaman interaksi dengan masyarakat sekitar dan wawasan
bahasa Arab, baik itu bahasa yang fushah (akademik) atau ‘ami-
yyah (umum).
Awal belajar di al Ahqaff, Reza termasuk minim dan pasif per-
| 387

