Page 415 - Merawat NKRI Ala Kyai Muda.cdr
P. 415
MERAWAT NKRI ALA KYAI MUDA | Tokoh-tokoh Inspiratif dari Pesantren
Namun, berapa tahun berselang semasa Lora Romzy duduk di
bangku kelas IV MI tahun 1977, sang ayah wafat sehingga dia
beralih belajar ilmu agama kepada ibu dan saudara-saudaran-
ya yang secara bergantian dan telaten mengajarinya mengaji.
Berkat kecerdasannya, meski masih duduk di bangku Madrasah
Ibtidaiyah, ia telah menghafal beberapa kitab, di antaranya,kitab
Amtsilatu Tasrif, Nadhom Imrithi, Nadhom Alfiyah dan Fathul
Qorib.
Selepas menyelesaikan jenjang pendidikan MI Hidayatut Thah-
libin yang diasuh keluarganya, diam-diam dalam diri Ra Romzi
terpendam keinginan untuk melanjutkan jenjang pendidikan di
sekolah umum. Keinginannya didorong karena rasa ingin tahu
dunia di luar pesantren.
Saat mengutarakan niatnya, Ra Romzi sempat ditentang oleh
Ibunya, Nyai Qina’ah, karena khawatir Ra Romzi tidak bisa
membaca kitab kuning dengan baik jika bersekolah di seko-
lah umum. “Jangan-jangan tidak bisa membaca kitab, sauda-
ra-saudaramu itu bisa semua,” ujar Ra Romzy menirukan petuah
Nyai Qinaah.
Larangan itu pun datang dari saudara-saudaranya yang lain. Wa-
jar terjadi penolakan, karena selama ini semua kakak kandungn-
ya tumbuh besar dalam didikan pesantren salaf sehingga belajar
di sekolah formal dianggap mustahil bisa baca kitab kuning.
Tapi teguran itu tak lantas membuat langkahnya surut. Dengan
bahasa yang agak menantang, tapi penuh hormat, ia meyakinkan
saudara-saudara dan ibundanya tentang pilihan yang diingink-
annya. “Mi, doakan saja semoga tak hanya membaca kitab, teta-
pi juga bisa mengarang kitab,” kata anak lulusan MI itu.
| 401

