Page 163 - Candi Indonesia (Jawa)
P. 163

CANDI PRAMBANAN





                     Candi Prambanan adalah candi bersifat agama Siwa, terletak di Kecamatan Prambanan,   Alamat
                                                                                                         Desa Bokoharjo, Prambanan, Sleman,
                Kabupaten Sleman, ± 17 km sebelah timur Kota Yogyakarta. Pertama kali dilaporkan oleh C.A.   Daerah Istimewa Yogyakarta
                Lons, seorang pegawai VOC Semarang pada tahun 1733 Masehi. Y. W. Ijzerman tahun 1885 mulai   Koordinat
                                                                                                         7° 39’ 44,420” LS 110° 28’ 50,999” BT
                membersihkan reruntuhan candi, dan menulis buku %HVFKULMYLQJ GHU 2XGKHGHQ. Dilanjutkan oleh   Ketinggian
                                                                                                         177 mdpl
                J. Groneman dibantu seorang juru foto yang berasal dari Jawa bernama Kasiyan Cephas. Ketika
                perbudakan Jepang, orang Belanda diambil oleh Jepang dan pekerjaan dilakukan oleh orang
                ,QGRQHVLD  6XNDQLU \DQJ GLEDQWX ROHK 6DPLQJDQ GDQ 6XZDUPR  3DGD UHYROXVL ¿VLN &DQGL 3UDPEDQDQ
                ikut menderita, dan setelah Yogyakarta kembali kepada pemerintah Republik Indonesia tahun 1949




                     Candi Prambanan is a Shiva temple, located in Prambanan Subdistrict, Sleman
                Regency, approximaately 17 km east of Yogyakarta City. First reported by C. A. Lons, a VOC
                Semarang employee in 1733 AD. Y. W. Ijzerman in 1885 began cleaning the temple ruins,
                and wrote a book entitled Beschrijving der Oudheden. Followed by J. Groneman assisted
                by a Javanese photographer, Kasiyan Cephas. During Japanese occupation of Indonesia,
                the Dutch were replaced by the Japanese and Indonesian by name of Sukanir took over
                the work, he was assisted by Samingan and Suwarmo. During the revolution, Prambanan
                suffered too, and after the Indonesian government took over Yogyakarta in 1949 Prambanan


                                                                                                                            135
   158   159   160   161   162   163   164   165   166   167   168