Page 337 - Perempuan Dalam Gerakan Kebangsaan
P. 337
Dra. Triana Wulandari, M.SI., dkk. (eds.)
Sumpah Pemuda, disadari pula bahwa perempuan pun harus bersatu
untuk dapat menyumbangkan pikiran dan tenaganya bagi Pergerakan
Kebangsaan Indonesia pada umumnya dan perbaikän kedudukan
perempuan Indonesia pada khususnya. Sebagai langkah permulaan
diselenggarakanlah Kongres Perempuan Indonesia yang pertama
pada tanggal 22 Desember 1928 dengan motto “Merdeka
melaksanakan Dharma”.
Walaupun melalui berbagai hambatan dan tantangan selama
masa penjajahan Belanda, dan dalam suasana yang sangat terkekang
pada masa pendudukan Jepang namun perempuan Indonesia secara
diam-diam berhasil mempersiapkan diri untuk ikut serta
mewujudkan Kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan pada
tanggal 17 Agustus 1945. Pada waktu itu perempuan Indonesia
serempak bersatu kembali dengan optilhoyan “100% merdeka, 100%
berdiri di belakang Pemerintah RI”.
Semboyan tersebut tidak merupakan kata-kata hampa, tetapi
langsung dilaksanakan dengan terjunnya laskar-laskar perempuan
dalam perjuangan fisik di samping berjuang di garis belakang, yaitu
dalam bidang sosial, ekonomi, dan politik.
Dalam masa pembangunan, Kongres Wanita Indonesia sebagai
wadah dari Kesatuan Pergerakan Wanita selalu berusaha membantu
Pemerintah dalam berbagai bidang. Ketika Gerakan 30 September
1965 PKI berusaha menumbangkan Pemerintah Indonesia, Kongres
Wanita Indonesia pun tidak luput dari rongrongan dan pengkhianatan
melalui Gerwani sebagai kaki-tangannya PKI. Namun demikian
Kongres Wanita Indonesia berhasil berbenah diri dan segera bersatu
kembali.
Bertubi-tubi tantangan telah dihadapi, berbagai cobaan telah
di-alami, namun Kongres Wanita Indonesia terbukti dapat mengatasi
itu semua. Adalah merupakan tantangan masa depan baik bagi
Pergerakan Wanita khususnya, maupun bagi perempuan Indonesia
305
305

