Page 122 - Sejarah Bencana Gempa di Sumatera
P. 122
122 SEJARAH BENCANA GEMPA BUMI DI SUMATERA
Melihat tingkat kerusakan yang terjadi di
Bengkulu, khususnya di Mukomuko, hampir
merata dialami oleh semua fasilitas dengan
kondisi yang sangat parah, wajar saja
masyarakat menjadi ketakutan dan merasa
dihantui oleh gempa-gempa susulan. Apalagi
pasca gempa bumi itu, banyak isu-isu yang
beredar tentang akan terjadinya tsunami.
Menurut analisis kerusakan akibat gempa
berdasarkan Modified Mercalli Intensity (MMI)
di Bengkulu dalam kurun waktu 10 tahun
terakhir terlihat tingkat kerusakan dengan
skala yang sangat besar. Tingkat kerusakan
itu dinilai sangat masif, artinya merusak
secara keseluruhan struktur bangunan dan
bahkan sanpai menghancurkan. Tingkat
kerusakan yang tertinggi terjadi pada saat
gempa tahun 2007, kemudian disusul
dengan gempa tahun 2009. Artinya dari
gempa yang terjadi selama 10 tahun terakhir,
Gambar 2.48 Salah satu gedung sekolah
dua gempa tersebut adalah peristiwa gempa
yang rusak berat di Kabupaten Mukomuko
yang berdampak paling buruk terhadap
(Sumber: Koleksi Zusneli Zubir)
masyarakat, karena menimbulkan tingkat
Gambar 2.49 Salah satu rumah penduduk kerugian yang cukup besar pula. Sebagai
yang hancur akibat gempa di Kabupaten perbandingan tentang hasil analisis MMI
Mukomuko (Sumber: Koleksi Zusneli Zubir)
tersebut dapat dilihat pada tabel berikut :
Dari tabel terlihat, bahwa sepuluh tahun
kerusakan permukiman penduduk dan terakhir ada beberapa gempa dahsyat yang
fasilitas umum. Di daerah Provinsi Bengkulu berpusat di Laut Samudra Hindia yang tepat
diperkirakan tidak kurang dari 3 ribu Kepala berada dihadapan pantai Barat Bengkulu.
Keluarga (KK) kehilangan tempat tinggal, Gempa itu menyadarkan orang Bengkulu,
karena ada lebih kurang 17.882 rumah bahwa daerah mereka merupakan daerah
rusak berat dan 35 ribu rumah rusak ringan, rawan gempa. Kesadaran yang muncul
ditambah dengan kerusakan fasilitas sosial ditengah masyarakat Bengkulu itu, juga
seperti; mesdjid, rumah sekolah, gedung mengingatkan mereka kembali tentang
perkantoran, diperkirakan ada sekitar 80 kebiasaan orang tua mereka akan tanda-tanda
bangunan yang rusak. Pada saat itu juga alam yang berhubungan dengan bencana.
14
terjadi beberapa kali gempa susulan. Memori kolektif tentang genpa sedikitnya
banyak membantu masyarakat dalam mitigasi
bencana gempa seperti rumah tinggal yang
14 http://posko-jenggala.org/site/aktivitas-
berkontruksi kayu adalah rumah tahan gempa.
View?id=10.

