Page 125 - Sejarah Bencana Gempa di Sumatera
P. 125

SEJARAH BENCANA GEMPA DI SUMATERA                                    125


                Cerita Atu Belah                     senandung (nandong). Senandung Smong
                Cerita  Atu Belah merupakan cerita rakyat   merupakan sebuah senandung yang lazim
                yang dikenal di masyarakat Gayo di sekitar   dinyanyikan oleh para Ibu di Pulau Simeulue
                Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, dan   ketika menina-bobokan anaknya di ayunan.
                Gayo Lues di Provinsi Aceh. Atu merupakan   Dalam berbagai literatur yang ada dijelaskan
                Bahasa Gayo yang berarti batu. Cerita ini   bahwa Smong merupakan senandung yang
                dikenal sejak ratusan tahun lalu tentang   dilahirkan berdasarkan  gempabumi yang
                seorang anak yang melanggar perintah Ibu   disertai tsunami yang pernah terjadi di Pulau
                nya sehingga Ibu nya marah dan pergi ke batu   Simeulue pada Tahun 1907. Lirik senandung
                besar. Sang Ibu meminta agar batu tersebut   (dalam Bahasa Simeulue dikenal nandong)
                terbelah agar ia bisa masuk ke dalam batu.   dapat dilihat pada bagian berikut ini.
                Seketika, alam menyahut permintaan tersebut
                dan sang batu membelah. Lalu sang ibu masuk   Enggel mon sao surito (dengarlah suatu
                ke dalam batu dan batu kembali merapat   kisah)
                lagi menelan sang Ibu. Pada saat peristiwa   Inang maso semonan (pada zaman dahulu
                membelah dan menutupnya batu tersebut,   kala)
                bumi diceritakan bergetar dengan kuat.  Manoknop sao fano (tenggelam suatu desa)
                   Batu yang terbelah tersebut saat ini   Uwilah da sesewan (begitulah dituturkan)
                berada di Desa Penurun di Kabupaten Aceh
                Tengah, berjarak sekitar 35 km dari Kota   Unen ne alek linon (Gempabumi yang
                Takengon. Mekanisme batu yang terbelah   mengawali)
                dengan cepat dan kembali tertutup mungkin   Fesang bakat ne mali (disusul ombak raksasa)
                saja berkaitan dengan gerakan tanah yang   Manoknop sao hampong (tenggelam seluruh
                disebabkan oleh gempabumi. Kebenaran   negeri)
                cerita  tersebut  memang  sulit  dibuktikan   Tibo-tibo maawi (secara tiba-tiba)
                sehingga sampai saat ini cerita tersebut tetap
                dianggap dongeng dan masih diceritakan   Anga linon ne mali (jika gempabuminya kuat)
                oleh orang tua kala mengantar anak-anaknya   Oek suruk sauli (disusul air yang surut)
                tidur. Tujuan cerita tersebut adalah agar para   Maheya mihawali (segeralah cari tempat)
                anak selalu patuh dan taat pada perkataan   Fano me senga tenggi (dataran tinggi agar
                orang tua mereka.                     selamat)


                Senandung Smong                       Ede smong kahanne (itulah smong namanya)
                Smong merupakan kosakata dalam bahasa   Turiang da nenekta (sejarah nenek moyang
                Devayan (salah satu bahasa daerah yang   kita)
                ada di Pulau Simeulue) yang berasal dari   Miredem teher ere (ingatlah ini semua)
                kata “Kemong” atau “seumongan” yang   Pesan navi-navi da (pesan dan nasihatnya)
                berarti tempias air (Syafwina, 2014). Dalam
                pengerritan yang lebih luas smong ini identik   Smong dumek-dumek mo (tsunami air
                dengan peristiwa tsunami dan dipraktikkan   mandimu)
                oleh warga di Pulau Simeulue dalam bentuk   Linon uwak-uwakmo (gempa ayunanmu)
   120   121   122   123   124   125   126   127   128   129   130