Page 130 - Sejarah Bencana Gempa di Sumatera
P. 130
130 JEJAK KEARIFAN LOKAL DALAM MITIGASI BENCANA GEMPA DI DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT
masih dapat di dengar di beberapa tempat
di Nias Utara dan Nias Barat. Demikianlah
cara masyarakat di Kepulauan Nias
menerjemahkan mekanisme gempabumi
jauh sebelum adanya alat-alat modern
untuk mengetahui mekanisme gempabumi
tersebut. Namun saat ini, generasi muda
di Kepulauan Nias sedikit sekali yang
mengetahui cerita ini.
Cerita Laomaru
Legenda Laomaru menceritakan tentang
seorang sakti yang hidup di Pulau Nias
bersama seorang anak lelakinya. Mereka
tinggal di sebuah gua yang diyakini berada
tidak jauh dari Kota Gunung Sitoli dan berada
di pinggir lautan. Suatu hari, Laomaru berniat
menarik Pulau Nias agar tergabung dengan
daratan besar Pulau Sumatera. Saat itu, ia
meminta anaknya membantu menghela
pulau dengan mewanti-wanti agar tidak
ATAS sekali-kali melihat ke belakang. Laomaru dan
Gambar 3.6 Rambu – rambu
anaknya kemudian menarik Pulau Nias seraya
kesiapsiagaan Bencana di Kec.
berjalan kearah lautan lepas. Sang Laomaru
Teluk Dalam, Kab Nias Selatan.
diceritakan mampu menyibak air laut saat
BAWAH menghela Pulau Nias. Namun, sang anak
Gambar 3.7 Lereng dinding di kemudian tidak mematuhi dan penasaran
Pantai Hinisataro, kec Komair kab untuk melihat ke belakang. Saat sang anak
Nias Selatan yang memiliki gua gua
melihat ke belakang, lautan yang tadi telah
kecil dipercayai pintu ular besar
tersibak kembali tertutup dan Pulau Nias
Laomaru, sebuah mitos tentang
gagal dipersatukan dengan Pulau Sumatera.
awal mula Nias dan Penduduknya
Aktifitas kebumian seperti yang diceritakan
pada Legenda Laomaru kemungkinan
berteriak “Biha Tuha!Biha Tuha,” yang juga bermakna proses kegempaan dan
berarti “Sudah Nenek!Sudah Nenek,”. Kata tsunami yang terjadi di Pulau Nias meskipun
Biha Tuha tersebut disuarakan dengan keras kebenaran cerita tentang Laomaru ini sulit
seolah-olah memohon kepada Latura Dano dibuktikan. Sampai saat ini, Gua Laomaru
agar memberi maaf atas kesalahan yang tersebut masih dapat dilihat berada di
telah dilakukan manusia di Tano Niha dan Tepi Jalan dan lubangnya nyaris tertutup
berhenti menggoncangkan badannya yang oleh rerumputan dan reruntuhan bebatuan
menyebabkan gempabumi. Cerita seperti ini sehingga sulit dikenali.

