Page 69 - Sejarah Bencana Gempa di Sumatera
P. 69
SEJARAH BENCANA GEMPA DI SUMATERA 69
gempa (seismic hazard) yang dibuat dengan hazard analysis” - PSHA). Metoda DSHA
sebaik-baiknya. Peta seismic hazard yang adalah peta zonasi goncangan gempa
kualitasnya kurang baik akan membuat yang dibuat berdasarkan efek goncangan
peraturan kode bangunannya kurang tepat, maksimal dari satu sumber gempabumi
dan pada gilirannya akan membahayakan atau jalur sesar aktif yang paling yang
keselamatan publik apabila estimasi paling berpotensial untuk menimbulkan
hazardnya dibawah yang seharusnya. bencana di wilayah yang bersangkutan. Cara
Sebaliknya estimasi seismic hazard yang ini terutama baik dilakukan untuk wilayah
terlalu tinggi akan membuat biaya konstruksi yang kebetulan dilintasi atau berada dekat
membengkak tidak perlu. dengan jalur sesar aktif. Metoda PSHA
Pada intinya besar goncangan gempa adalah peta zonasi gempa yang dibuat
berbanding lurus dengan kekuatan berdasarkan gabungan efek dari semua
gempa di sumber (magnitudo gempa - sumber gempabumi yang ada di wilayah
SR) dan berbanding terbalik dengan jarak bersangkutan yang di jumlahkan dengan
dari lokasi ke sumber. Jadi makin besar memakai perhitungan probabilitas. Artinya,
kekuatan gempanya akan makin besar semua gempabumi yang dapat terjadi pada
goncangannya, sebaliknya makin jauh setiap sumber gempanya diperhitungkan
jarak dari lokasi ke sumber gempa akan dan dikuantifikasikan.
makin kecil goncangannya. Faktor lain
yang mempengaruhi besar goncangan Peta Probabilistic Seismic Hazards
adalah kondisi tanah/geologi di lokasi Indonesia pertama kali mempunyai peta
yang bersangkutan. Tanah gembur hazard gempa pada tahun 1983, yaitu
misalnya akan memberikan amplifikasi dalam Peraturan Perencanaan Tahan Gempa
pada gelombang seismik yang datang; Indonesia untuk Gedung (PPTI-UG 1983).
sebaliknya tanah keras dapat meredam Peta gempa ini kemudian diperbaharui
gelombang seismik yang datang. Besaran pada tahun 2002 dengan keluarnya Tata
seismic hazard biasanya dinyatakan dalam Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk
besar percepatan gravitasi (g). Besar Bangunan Gedung SNI 03-1726-2002.
koefisien seismic hazard pada tanah Terakhir, pada tahun 2010, peta zonasi
fondasi batuan dasar umumnya dinyatakan gempa PSHA dari SNI 03-1726-2002 ini
dalam “Peak Ground Accelleration (PGA)”. direvisi kembali oleh tim nasional yang terdiri
Sedangkan besar koefisien seismic hazard dari para ahli lintas instansi dari berbagai
untuk bangunan (yang mempunyai keilmuan terkait bidang kegempaan di
frekuensi tertentu) biasanya dinyatakan bawah koordinasi Kementerian Pekerjaan
dalam “spectral acceleration (SA)” Umum. Tim ini sering disebut sebagai
Ada dua jenis metoda pembuatan Tim 9, beranggautakan sebagai berikut;
peta seismic hazard; Yang pertama adalah Ketua Prof.DR. Masyhur Irsyam, MSE., PhD.
yang dibuat dengan cara deterministik (Geoteknik Kegempaan-ITB), Wakil Ketua
(“deterministic seismic hazard analysis”- DR. Wayan Sengara, MSCE., PhD. (Geoteknik
DSHA), dan yang kedua adalah dengan Kegempaan-ITB), Sekretaris Fahmi Aldiamar,
cara probabilistik (“probabilistic seismic MT. (Geoteknik Kegempaan-PU), Anggota

