Page 66 - Sejarah Bencana Gempa di Sumatera
P. 66

66                   KEARIFAN LOKAL DALAM MITIGASI BENCANA GEMPA BUMI DI SUMATERA


              Gadang ini dulu pernah rusak berat juga   Koto Gadang. Pada gempa tahun 2007 ini
              ketika gempa tahun 1926. Namun karena   juga tidak ada banyak kerusakan di utaranya
              ketidaktahuan, mesjid didirikan lagi di   Koto Gadang.  Artinya, ada kemungkinan
              lokasi sama. Sekarang mesjid besar Koto   bahwa segmen sesar dari utara Koto
              Gadang sudah dibangun kembali tapi   Gadang sampai daerah Bonjol belum
              lokasinya digeser sekitar 20 meter menjauhi   pernah bergerak, atau masih menyimpan
              jalur sesar. Lokasi dari Sekolah Dasar Koto   energi gempa yang cukup besar, sehingga
              Gadang yang berada di sebelah mesjid   patut diwaspadai kemungkinannya terjadi
              juga persis berada di jalur rekahan gempa   lagi gempa besar pada segmen di uatara
              sehingga mengalami rusak parah dan tidak   Koto Gadang ini dikemudian hari.
              bisa dipakai lagi  (Gambar 46). Untungnya
              ketika gempabumi kedua terjadi (pkl 12:50)   PRINSIP MITIGASI BENCANA GEMPABUMI
              anak sekolah sudah pulang sehingga   Undang Undang Republik Indonesia Nomor
              tidak ada korban jiwa. Sayangnya, sekolah   24 Tahun 2007 yang dikeluarkan pada bulan
              ini setelah gempa masih dibangun lagi   April  2007  merupakan  awal  dari  era  baru
              ditempat yang sama.                  dalam mitigasi bencana alam di Indonesia.
                 Kerusakan lain  yang banyak terjadi   Di masa sebelumnya, usaha mitigasi bencana
              adalah akibat gerakan tanah yang dipicu   alam belum dilaksanakan sepenuhnya secara
              oleh goncangan gempa. Gerakan tanah ini   sistematis, terorganisasi, dan bertanggung
              biasanya terjadi  pada wilayah tanah yang   jawab. Sekarang mitigasi bencana alam
              kurang stabil, seperti pada lereng-lereng   bukan lagi sekadar anjuran dan  himbauan,
              bukit dan pinggiran sungai atau danau.   tapi sudah merupakan kewajiban untuk
              Sisanya yang rusak adalah bangunan dan   melaksanakannya. Namun karena pada
              rumah-rumah yang konstruksinya kurang   masa sebelumnya kegiatan pengkajian alam
              baik atau tidak tahan digoncang meskipun   Indonesia  sebagian  besar  untuk  eksplorasi
              letaknya cukup jauh dari jalur sesar gempa   sumber daya  alam, sedikit sekali dilakukan
              (Gambar 47). Sebuah  hotel  paling besar   pengkajian potensi bencana alamnya, maka
              di Bukit Tinggi (Novotel) dikabarkan tidak   sekarang ini data potensi sumber bencana
              bisa beroperasi setelah gempa.       alam di Indonesia masih minim. Dengan mulai
                 Wilayah kerusakan gempa tahun 2007 ini   maraknya usaha mitigasi bencana alam hal ini
              sangat mirip dengan dokumentasi laporan   menjadi  kendala  utama.  Sayangnya  banyak
              kerusakan yang pernah terjadi pada gempa   orang yang beranggapan bahwa data sumber
              tahun 1926, yaitu dari Kota Solok sampai   bencana sudah cukup sehingga hanya
              dengan Koto Gadang. Baik gempa 1926 dan   perlu  untuk  menuangkannya  saja  dalam
              gempa 2007 sama-sama terjadi dalam dua   pelaksanaan mitigasi bencana alam.
              gempa besar yang terjadi beruntun pada      Satu falsafah dasar dalam mitigasi
              segmen sesar yang sama dan juga dimulai   bencana alam adalah bahwa dengan lajunya
              dari selatan, hanya kekuatan gempa 1926   pertumbuhan penduduk dan pembangunan
              diperkirakan lebih besar. Baik pada gempa   maka ancaman bencana alam menjadi
              tahun  1926  dan  gempa  tahun  2007  tidak   semakin tinggi. Hal ini disebabkan karena
              dilaporkan adanya kerusakan serius di utara   akan semakin banyak populasi manusia
   61   62   63   64   65   66   67   68   69   70   71